Sumber : https://international.sindonews.com

 

Kontributor : Tejaningrum (Mahasiswa PSdK 2016)

Kebahagian merupakan hal yang paling didamba oleh seluruh manusia, sehingga manusia berlomba – lomba untuk mendapatkan dan mempertahankan “kebahagiaan” melalui berbagai cara. Misalnya pekerja kantoran yang rela bekerja lembur dan melakukan pedekatan kepada atasan, agar segera dipromosikan, atau tetap memegang jabatan prestis. Namun waktu yang terbatas, bagi manusia yang hanya beroreintasi mengejar kebahagiaan fana dari dunia yang juga fana, menjadikan upayanya selama di dunia tidak bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya yang lebih kekal. Akhirat dan Surga adalah tempat paling ideal bagi kehidupan abadi manusia. Allah pun menegaskan untuk menjadikan Surga sebagai oreintasi hidup manusia, sehingga menjadikan dunia sebagai sarana mencapainya.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagimu dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang berbuat kerusakan. (Surah Al Qashsh (28):77)

Berlomba – lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang – orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah karunia Allah di berikan kepada siapa saja yang dikendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surah Al Hadid (57) :21)

Lalu bagaimana cara mencapai surga melalui dunia. Apakah hanya dengan melakukan sholat, zakat, dan puasa saja atau bagaimana idealnya. Oleh karena itu, untuk menjawabnya perlu melihat misi penciptaan manusia yang terterah dalam surah      Al – Baqarah ayat 30, ingatlah ketika Tuhan berfirman pada malaikat “ sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi…” Di mana menurut Ustad Iskandar Al – Warisy, pengertian khalifah dilihat dari bahasa artinya “pengganti”[1] dengan demikian Nabi Adam bukanlah manusia pertama yang diciptakan Allah, melainkan ada makhluk sebelumnya yang sudah punah.

Arti Khalifah pun menyimpan semangat yang bermakna, semangat atau misi pengaturan dan penataan  masyarakat (dapat dicek surah  An- Nur (24) : 55). Jadi dapat disimpulkan, bahwa Allah telah berencana menjadikan manusia dengan segala potensinya, melakukan pengaturan dan pembangunan masyarakat. Di sisi lain, apa yang telah disampaikan Ust.Iskandar AI Warisy, juga sejalan dengan tujuan dakwah Nabi dan Rasul yang didukung fakta sejarah tentang dinamika dakwah Nabi dan Rasul. Dari Adam AS hingga Muhammad SAW, dapat ditelisik bahwa Beliau senantiasa mengajak masyarakat pada jalan yang benar yakni mengillahkan Allah atau ajaran tauhid. Untuk mendukung jalan dakwah, para Nabi dan Rasul juga berstrategi mengupayakan tatanan masyarakat yang adil atau seimbang melalui jalan sosial; politik; bahkan ekonomi. Pembangunan Masyarakat yang seimbang merupakan sarana yang dapat mengantarkan pada surga yang sejati.

Begitu banyak kerusakan pada sektor masyarakat mengharuskan manusia dengan misi pembangunan masyarakat memiliki keahlian dalam satu bidang yang dipilihnya, sehingga harus memiliki kemauan belajar dengan sikap rasional dan objektif. Selain itu dapat menepis anggapan bahwa kontribusi mewujudkan pembangunan masyarakat, tidak harus melalui jalan dakwah yang sering dekat dengan profesi “Ustad”. Tetapi juga dapat memaksimalkan kontribusi melalui keahlian masing – masing individu (oleh karena itu perlu merencanakan karier secara tepat dan mempertimbangkan besar kontribusi yang menjadi lahan memperoleh amal shaleh).

Dalam proses memperoleh keahlian, manusia juga harus menjalankan aspek spiritual dan sosial secara seimbang, karena manusia membutuhkan pengondisian untuk terus bertahan dalam jalan perjuangan. Serta dalam membangun masyarakat berarti berupaya memperbaiki sistem tatanan masyarakat, yang tidak dapat dilakukan satu orang saja, melainkan harus kolektif. Oleh karena itu Allah tidak perna membedakan gender manusia dalam perjuangan, melainkan besarnya amal sholeh yang diperoleh dari kontribusi karya. Itu ditegaskan pada Surah An-Nahl (16) ayat 28, Allah berfirman “ Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki- laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”. Kesimpulannya Allah yang Maha Adil sangat menjunjung kesetaraan gender, karena yang dipertimbangkan adalah kontribusi.

 

Walaupun sudah sampai pada kesimpulan bahwa Allah sangat menjunjung kesetaraan gender. Namun, terbesit dan muncul pertanyaan, apakah kesimpulan tersebut tidak bertolak belakang dengan anggapan bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin dengan landasan Surah An-Nahl (16) ayat 28. Tetapi sebelum menjawab pertanyaan tersebut, baiknya untuk membenarkan pengertian mengenai gender dan sex yang bias di tengah masyarakat luas.

Istilah, “Gender” pertama kali diperkenalkan oleh Robert Stollen (1968) untuk memisahkan perincian manusia, yang didasarkan pada pendefenisian yang bersifat sosial budaya dengan pendefenisian yang berasal dari ciri – ciri fisik biologis. Dalam ilmu sosial, orang yang juga sangat berjasa dalam mengembangkan istilah dan pengertian gender ini adalah Ann Oakley (1972). Sebagaimana Stoller Oakley mengartikan gender  sebagai konstruksi sosial atau atribut yang digunakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia, bukan kodrat Tuhan (Rian Nugroho, 2008 :2 -3). Hal tersebut juga didukung oleh teori nature, yang menyatakan bahwa gender merupakan akumulasi persepsi dan pembangunan identitas diri manusia sejak lahir. Sedangkan sex merupakan pembagian berdasarkan fakta biologis.

Namun, pengertian yang terbentuk di  masyarakat yang menyatakan bahwa sudah menjadi krodrat Tuhan bahwa selain memiliki alat reproduksi, laki – laki harus bersifat maskulin, dan perempuan harus feminin, menjadikan bias pengertian dan memunculkan fenomena kaum androgini. Padahal dalam teori psikoanalisis disebutkan bahwa di setiap diri manusia sangat wajar jika ada dua sifat yakni feminin dan maskulin, sesuai dengan dinamika identifikasi diri dengan lingkungan pertumbuhan.

Anggapan yang bias di tengah masyarakat mengenai gender and sex, dapat menjadi analogi yang tepat untuk menunjukan ada yang “miss” dalam cara berpikir masyarakat, yakni tidak melihat konteks. Sama halnya, ketika memahami ayat Al – Quran, Hadist, atau Sunnah Rasul, manusia harus memiliki metedologi dan mengetahui metode ilmiah memahaminya, atau paling tidak, memahami konteksnya terlebih dahulu. Oleh karena itu, ketika masyarakat luas telah meyakini bahwa pemimpin perempuan dalam islam tidak diperbolehkan, masyarakat tidak boleh berhenti disitu, menerima fakta. Tetapi mari meng- crosscheck.

Pertama, yang menjadi dasar argumen mereka adalah Surah An- Nisa 34

“ Kaum laki – laki adalah pemimpin bagi perempuan, oleh karena  Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki – laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan mereka (laki – laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan yang shaleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada…………….”

Terlihat bahwa dalam surah An – Nisa 34 status laki – laki adalah sebagai seorang suami yang telah melaksanakan ijab atas perempuan yang dinikahinya. Sehingga wajar apabila laki – laki berkewajiban sebagai seorang pemimpin, pendidik, dan kepala rumah tangga yang harus mencari nafkah bagi keluarganya. Oleh karena atas usaha tersebutlah, sepatutnya wanita sebagai seorang istri patuh dan menghargai suaminya. Serta, Allah melebihkan rizki-Nya atas laki – laki, yang berusaha memenuhi sunatullah menafkahi keluarga. Namun menurut Ar-Razi, kelebihan yang Allah berikan terhadap laki – laki adalah ilmu pengetahuan (al-ilm) dan kemampuan fisik (al-qudrah), sehingga mampu mengikuti perang dalam konteks zaman itu, selain mencari nafkah. Di mana pengetahuan dan kekuatan fisik yang pada zaman itu sangat mudah didapat bagi kaum laki – laki, tetapi tidak bagi perempuan yang hanya menjadi boneka pelampiasan hasrat pada budaya jahiliyah Arab.

Kedua, konteks yang sama bahwa perempuan pada zaman masyarakat jahiliyah Tanah Arab yang belum mendapat akses belajar, bahkan hak hidup, membuat hadist yang menjadi dasar pelarangan pemimpin perempuan dalam konteks 2018 atau era digital tidak komperhensif  atau dengan kata lain, hadist hanya bersifat informative yang tidak membawa implikasi hukum yang berlaku sepanjang waktu atau masa.

Disamping itu apakah ketika Nabi menyabdakan hadist tersebut ,posisi Beliau sebagai Rasul ataukah sebagai kepala negara. Karena seperti kata Mahmud Syaltut bahwa mengetahui hal – hal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan mengaitkan pada fungsi Nabi tatkala  hal tersebut dilakukan, sangat besar manfaatnya. Di sini-lah perlu diketahui fungsi Nabi Muhammad dan hubungan dengan Sunnah (Mudhofar Badri,dkk,2002 : 74).

Terakhir, mari membahas apa yang menjadi syarat bagi seorang pemimpin untuk memantapkan, bahwa seluruh manusia yang menjadi khalifah berhak menjadi seorang pemimpin tanpa pandang  gender and sex, karena yang ditekankan adalah kemampuan yang didapat dari kesempatan yang sama. Menurut Stogdill dalam bukunya Personal Factor Associated with Leadership yang dikutip oleh Kartini Kartono dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan mengatakan bahwa pemimpin itu harus mempunyai kelebihan, yaitu:

  1. Kapasitas meliputi: kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara dan

kemampuan menilai.

  1. Ilmu pengetahuan yang luas
  2. Tanggungjawab, mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri, agresif, dan punya hasrat untuk unggul.
  3. Partisipasif aktif, memiliki sosialbilitas tinggi, mampu bergaul, kooperatif, atau suka bekerja sama, mudah menyesuaikan diri, punya rasa humor.
  4. Status meliputi kedudukan sosial-ekonomi yang cukup tinggi, populer, tenar (Kartono, 1994).

Dari uraian di atas bahwa untuk menjadi seorang pemimpin harus mempunyai kecerdasan, tanggungjawab, serta mempunyai kedudukan sosial yang tinggi di dalam suatu masyarakat. Sedangkan menurut Jhon D. Millet  dalam bukunya Management In The Public Services, yang dikutip oleh Inu Kencana dalam bukunya Manajemen Pemerintahan mengatakan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai sifat kepemimpinan, sifat tersebut sebagai berikut:

  1. Kemampuan untuk melihat organisasi secara keseluruhan
  2. Kemampuan untuk mendelegasikan wewenang
  3. Kemampuan untuk memerintahkan kesetiaan
  4. Kemampuan untuk membuat keputusan (Kencana, 1998).

 

Selama akal, iman islam, dan Allah menjadi satu – satu nya Illah manusia.

Maka manusia harus senantiasa belajar dan berjuang membangun masyarakat agar dunia ini terus seimbang.

Karena yang membedakan antara Laki – Laki dan Perempuan di Sisi Allah adalah besarnya peran atau kontribusi yang menjadi amal soleh, Bukan gender.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Al- Warisy,Iskandar. (1989).Merencanakan Masa Depan Akherat Lewat Profesi

Pembangunan Masyarakat.Surabaya : Yayasan Al-Kahfi.

Nugroho, Rianto.(2008).Gender dan Strategi Pengarus-utamaan di

Indonesia.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Basri,Mudhofar,dkk.(2002).Panduan Pengajaran Fiqh Perempuan di Pesantren.

Yogyakarta : Ford Foundation.

Jurnal hasil riset.Syarat Kepemimpinan. http://www.e-jurnal.com/2013/09/syarat-syarat-

kepemimpinan.html (diakses September 2013)

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

 

Nama Lengkap            : Tejaningrum

Instusi Pendidikan      : Universitas Gadjah Mada, masih dalam proses studi S1   Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fisipol.

Alamat                        : Jl. Manggis CTVIII Blok d no 14 f, Depok,Caturtunggal,Sleman,DIY.

Nomer Telepon           : 081291475216

TTL                             : Surabaya, 15 Juni 1998

Organisasi                   : Unit Penalaran Ilmiah (Humas) dan Dewan Mahasiswa (Riset)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Kamus Al – Munawwir Arab-Indonesia :A.W.Munawwir

169 views