Oleh : Tejaningrum (mahasiswa PSdK 2016)

Berpura – pura menjadi baik yang dilakukan secara berulang, akan memberi dampak kepada alam bawah sadar agar karakter baik tersebut menjadi sikap refleks sekaligus konsep diri. Konsep diri dapat memengaruhi tindakan manusia, karena konsep diri adalah hasil fikir dengan akal yang mengelola dan menghubungkan informasi yang ditangkap indera manusia. Di sisi lain, akal juga merupakan senjata terbesar manusia bisa bertahan hidup, sebab akal dapat membantu manusia mempertimbangkan serta mengukur sesuatu. Misalnya pilihan bersikap rasional atau emosional.

 

Tekanan lingkungan secara tidak sadar juga ikut mempengaruhi keputusan individu bertindak. Misalnya kenapa wanita selalu dianggap makhluk lemah, hingga ada sebagian wanita berperilaku membatasi dirinya dan menunjukan bahwa memang mereka adalah makhluk yang lemah. Walaupun kenyatannya apabila ia mendapatkan kesempatan yang sama dengan gender lain, maka mereka juga dapat setara. Itu karena bias konsep di masyarakat tentang defenisi gender dan kesalahan memahami konsep kodrat. Contoh lain, terinspirasi dari film Tarzan, di mana Tarzan bertindak seperti kera, karena lingkungan pertumbuhannya dan konsep diri yang menganggap bahwa ia adalah bagian dari genus kera.

 

Dalam Teori Bunuh Diri Durkheim tentang bunuh diri, disebutkan bahwa fenomena bunuh diri yang marak terjadi pada masyarakat modern bukan hanya karena ketidakmampuan mengikuti kompetisi industri, melainkan perasaan terpisah atau egoistis yang dihasilkan pilihan masyarakat lain untuk menjalankan kehidupan yang individualis-lah yang memberi tekanan batin. Sehingga individu yang melakukan bunuh diri merasa seolah tidak memiliki alasan untuk hidup. Padahal, tidak dapat disangkal bahwa manusia adalah bagian makhluk sosial. Contohnya kasus bunuh diri di negara modern seperti Singapura yang menduduki total 9 persen warganya. Walaupun di sisi lain sistem pendidikan Singapura menduduki peringkat teratas di Asia Tenggara.

 

Selain itu, lingkungan yang tidak rasional, seperti tuntutan budaya, misal kebiasaan keluarga yang apabilah salah satu anggota keluarga dianggap membuat malu, maka harus membunuh dirinya. Contoh lain adalah kebiasaan dikontrol oleh orang lain. Di mana ketika orang yang mengontrol atau memberikan tempat bergantung hilang, maka menimbulkan seseorang yang dikontrol, tidak mampu menentukan arah hidupnya, sehingga memutuskan bunuh diri. Seperti kasus bunuh diri yang dilakukan oleh salah satu pria asal Indonesia secara live di media sosial. Keputusan itu diambil, karena ia merasa hidupnya hancur setelah ditinggal kabur istrinya yang selingkuh, serta meninggalkan tanggung jawab seorang anak hanya pada dirinya.

 

Dari cerita Tarzan terkait konsep diri dan Teori Bunuh Diri Durkheim, menghasilkan kesadaran, betapa pentingnya silaturahmi. Bukan sekedar agar ketika meninggal ada yang menguburkan atau mengkremasi, tetapi sebaliknya, dengan silaturahmi, kita sedang menjaga hidup kita. Maksudnya kebutuhan perlindungan, dicintai, hingga aktualisasi diri seperti pengakuan dan kebermaknaan hidup, hanya dapat kita peroleh jika ada interaksi dengan manusia yang lain. Selain itu, dengan terjaganya komunikasi dengan manusia lain, maka manusia akan cenderung lebih rasional dan mampu memfilter konsep diri yang buruk. Sehingga dapat terhindar dari perbuatan yang merugikan. Terakhir, keseimbangan atau ketika kontribusi di masyarakat itu bukan hanya butuh keahlihan saja, tetapi kerjasama dengan orang lain yang bisa dimulai dengan bersilaturahmi. Untuk memahami satu sama lain (bersikap empati dan peduli), kemudian saling menguatkan untuk selalu produktif berkontribusi buat masyarakat.

 

Referensi

Durkheim,E.1857.Sucide : A Studi in Sociology (terj.,1952).London : Routledge.

Nugroho, Rianto.(2008).Gender dan Strategi Pengarus-utamaan di Indonesia.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Pasiak, Tufiq.(2006).Manajemen Kecerdasan.Jakarta : Mizan.

Soetomo.(2011).Masalah Sosial dan Upaya Penanganannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.