Oleh : Awa Nanda (Mahasiswa MKP 2014)

 

Secangkir coklat panas tiba-tiba menghampiriku sore ini. Membuatku sangat terkesan. Tidak, bukan minuman itu yang membuatku terkesan. melainkan gadis yang membawa coklat tersebut.

Saat ini aku sedang berada di rumah salah satu temanku di daerah pusat kota. Dan kalian tahu sendiri bahwa pusat kota merupakan suatu tempat yang “Liar”. Dalam artian tidak mudah ditaklukan.

Salah satu hal yang membuatku tidak konsentrasi selama ini adalah sosok wanita tersebut. Sangat tidak mudah ditaklukan, pikirku.

“Sejak kapan kau datang ke kota ini ?”

“Sekitar 2 minggu yang lalu”.

Suaranya sangat lembut dan nadanya pelan, lirih seperti kebanyakan gadis desa lainnya. Jika ditanya apakah wanita ini cantik ? maka akan kujawab, Ya. Wanita ini benar-benar cantik. Rambutnya lurus hitam dan tebal, matanya coklat bulat dan agak sedikit sipit. Kulitnya putih dan tampak halus, walaupun aku belum pernah menyentuh kulit itu. Sialan, aku benar-benar ingin menyentuh kulit itu.

Wanita itu mulai tampak grogi karena kuperhatikan dari tadi. matanya tidak menatap mataku. Tampaknya masih malu-malu, dan karena itu !! yang membuat gadis imut manapun tampak menghadirkan semacam daya tarik yang kuat. Attractive? Ya, sangat attractive.

Ketika gadis itu mulai berjalan meinggalkan ruang tamu, aku segera mencegahnya dan berkata,

“Jangan pergi dulu, duduk di sini saja sampai Kevin datang.”

“Tapi Mas Kevin-nya lagi pergi dan nggak tau dia mau pulang kapan.”

Astaga, medok sekali gaya bicaranya. Sepertinya dia orang Jawa. Tapi kulit putihnya menandakan bahwa dia orang Sunda, juga matanya yang agak sipit membuatnya tampak seperti gadis perawan Dayak. Aku tak tahu apapun tentang dirimu, sungguh!!

“Siapa namamu?”

“Ratih.”

Namanya yang sangat umum dikalangan para gadis mungkin. Semenjak tadi pembicaraan ini sangat membosankan. Aku bertanya dan Ratih menjawab. Ayolah, ini bukan wawancara kerja, Aku menginginkan pembicaraan yang lebih mesra dan hangat.

“Kalau boleh tahu apa hubunganmu dengan Kevin?”

“Mas, saya lagi sibuk. Saya harus beres-beres dibelakang rumah. Pekerjaan saya masih banyak.”

Dingin sekali, sama sekali bukan pembicaraan hangat yang kubayangkan. Tetapi aku telah menyadari satu hal, bahwa Ratih ini adalah pembantunya Kevin. Entah darimana ia mendapatkan pembantu secantik ini. Sialan kau Vin, begitu pulang akan kuinterogasi kau.

“Kalau begitu saya permisi.” kata Ratih sambil membungkuk.

Ratih bangkit dari sofa yang didudukinya. Ia berbalik badan kearah belakang sambil berjalan menuju belakang. Dari belakang kulihat pinggang yang sangat ramping. Bentuk badan yang benar-benar seperti seorang wanita dengan lekukan tubuh yang pas.

Gadis itu memakai kaos lengan pendek yang berwarna pink. Ukurannya sangat pas dengan bentuk tubuhnya membuat dadanya sedikit menonjol. Tidak terlalu besar namun sangat pas untuk ukuran tubuh ratih yang ramping, bokongnya benar-benar penuh. Saat berjalan jelas terlihat bergetar kekanan dan kekiri. Apalagi ia memakai celana pendek rumahan se-paha, benar-benar gadis impianku.

Setelah beberapa langkah Ratih pergi meninggalkanku, Kevin tiba-tiba datang. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia sama sekali mengacuhkan kedatanganku.

“Hey, ini aku kawan. Kau seharusnya menghormati tamumu.”

“Mau apa kau kesini?”

Kevin adalah teman sekelasku. Walaupun jarang ikut kuliah, banyak waktu yang telah kuhabiskan bersama Kevin. Bajingan kecil itu kini menghilang saat aku datang untuk menengoknya.

Aku biasa main ke Apartemen milik Kevin. Sekedar untuk menghabiskan waktu disisa mata kuliah yang hampir habis. Kami sudah semester 8 dan sebentar lagi kami akan menyusun skripsi masing-masing, lalu wisuda, lalu bekerja. Untuk itu aku ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Tetapi Aku tidak menyangka akan bertemu dengan gadis secantik Ratih ditempat ini.

“Selamat datang”. Kata Ratih sambil tersenyum lebar pada Kevin.

“Aku pulang”.

Wajah yang berseri tampak diwajah Ratih. Setelah baru saja melihat kedatangan Kevin. Senyumnya manis. Belum pernah kulihat senyum macam begitu sebelumnya. Lalu tiba-tiba Kevin menyeret lenganku dan membawaku ke basement Apartemen. Sebelum kusadari bahwa bibirku telah memerah karena darah.

Pukulan yang kuat, sialan kau Kevin. Kubalas dengan tonjokan kuat di rahang kiri di pipinya. Kevin terpental dan membalasku berulang-ulang. Adu Jotos ini bertahan hingga 10 menit, sebelum akhirnya kita berbaring terkapar di parkiran mobil basement Apartemen.

“Seharusnya kau bilang dulu kalau mau datang”.

“Untuk apa? Agar kau bisa menyembunyikan pembantumu yang jelita itu?”

“Pembantu?”

Wajah Kevin tampak sangat marah, Ia kebingunan. Menghajarku bukanlah cara yang tepat melampiaskan emosinya. Terlebih lagi, aku tak tahu dihajar untuk apa. Untuk Ratih? Itu penjelasan yang masuk akal.

Penjelasan itu masuk akal karena Ratih adalah gadis penghibur yang baik. Ia tidak menyangka akan tinggal di dalam Apartemen mewah milik Kevin. Sebelumnya Ratih masih bekerja untuk sebuah bar yang menyediakan layanan penghibur bagi pria-pria hidung belang. Kadang mendapatkan pelanggan laki-laki setengah baya dan kadang mendapat pria tua jorok yang terlihat mempunyai 9 cucu. Namun ini pertama kalinya bagi Ratih mendapatkan mahasiswa muda yang kaya.

Anak badung itu seperti kebanyakan anak orang kaya yang disekolahkan di kota oleh ayahnya. Diberikan Apartemen, mobil, dan uang saku yang besar. Tetapi Kevin mengindahkan hal tersebut dan tidak pernah berangkat kuliah. Ia lebih memilih pergi ketempat-tempat hiburan malam macam begini.

Saat itu ia sendiri sedang memikirkan cara untuk menambah uang saku yang semakin menipis karena ia tidak kunjung lulus. Ia pusing dan kacau. Maka diputuskanya untuk mengunjungi tempat gemerlap ini, sekedar untuk refreshing apa yang sudah terjadi.

Kevin memasuki renda-renda di pintu masuk dan melihat gadis-gadis cantik yang berdiri berjajar disampingnya. Seakan mereka siap ditunjuk untuk menunjukan kebolehannya berada di ranjang. Kemudian ia langsung memilih Ratih tanpa dasar apapun.

Seperti itulah pertemuan pertama Ratih dan Kevin. Hubungannya hanya sebatas customer saja. Setelah nego harga Ia lalu masuk ke dalam kamar. Tetapi yang dilakukan bukan langsung menidurinya, tetapi mengajaknya untuk berbisnis. Hal tersebut terlintas begitu saja dipikirannya.

Ratih ditawarkan untuk menjadi penghibur di Apartemen. Tidak ada salahnya mengambil kesempatan itu. Daripada ia tetap ditempat ini, kehidupannya tidak akan maju-maju. Perubahan ini datang setelah Kevin masuk dan memberinya tawaran untuk jasa-jasanya. Kevin akan mengatakan pada pihak Apartemen bahwa Ratih adalah asisten rumah tangga, Itu mudah.

Percayalah, bahwa Apartemen itu merupakan kompleks orang-orang bisnis yang kaya. Kevin adalah satu-satunya pemuda yang mendiami Apartemen mewah tersebut. Kebanyakan adalah pria hidung belang yang sudah lama tidak merasakan sentuhan wanita. Mereka sibuk untuk membangun karir. Kedatangan Ratih disana menjadi penyegar untuk suasana penat dari tekanan-tekanan bisnis yang mereka alami.

Kevin bukan merupakan mahasiswa yang pintar, tetapi ia ahli dalam urusan-urusan macam begini. Otak bisnisnya berjalan efisien. Ia memikirkan tentang pendapatan yang akan diterimanya. Selama 6 hari dalam seminggu akan menjadi malam bagi para pria yang dijajakan. Sisa 1 hari tersebut adalah jatah untuk Kevin menikmati tubuh Ratih.

Pria tua itu akan membayar Kevin atas kenikmatan tubuh Ratih. Kemudian para lelaki tersebut ketagihan dan selalu datang setiap malam. Ketika Kevin tidak ada uang, ia akan menjual jatah 1 harinya kepada pria lain yang menginginkannya. Hal tersebut bukan kerugian untuk Kevin. Kevin tetap akan menerima perlakuan khusus dari Ratih.

Kadang-kadang pada siang hari Kevin meminta jatah lagi kepada Ratih, tetapi Ratih membiarkanya karena Kevin sangat baik kepada dirinya. Pada hari minggu tak jarang Kevin membawa Ratih untuk jalan-jalan. Pergi ke taman bermain, berbelanja, makan di restoran mewah dan berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya.

Ratih merasa sangat senang dengan perlakuan Kevin kepadanya. Menurutnya Ia adalah pria yang paling baik yang pernah ada. Padahal Kevin mendapatkan banyak uang dari hasil kerja keras Ratih. Wajar saja karena merupakan balas jasa dan Kevin memang harus berbuat baik pada gadis itu.

Tetapi semakin lama Kevin makin merindukan tubuh Ratih. Sepulang dari Kampus ia langsung pulang menuju Apartemen dan sekonyong-konyong mencumbu Ratih di siang bolong. Tidak apa. Ini bagian dari simbiosis mutualisme.

Selama 2 minggu ini pria-pria kompleks Apartemen mengeksploitasi tubuh Ratih. Mereka berbondong-bondong datang dengan membawa sebotol bir dingin. Kadang mereka juga membawa rekan bisnisnya. Apartemen Kevin menjadi ramai dan bau alcohol, tapi hal tersebut merupakan konsekuensi atas bayaran yang besar. Kevin harus merahasiakan ini dari siapapun, teman-temannya, orangtuanya, termasuk kepadaku.

“Kau tahu, sebelumnya aku berpikir akan benar-benar mengencani Ratih.”

“Jangan!! untuk itulah aku menghajarmu. Dia bukan wanita untuk dikencani.”