Oleh : Dendy Raditya Atmosuwito
Hari-hari ini kita saksikan orang-orang mulai muak dengan apapun yang mereka anggap serba agama.
Mereka muak karena bagi mereka agama hanya dijadikan alat untuk merengkuh kuasa semata.
Mereka muak karena semua yang berbeda dengan mudahnya dituduh sebagai penista agama.
Agama bagi mereka hanya layak untuk orang-orang yang berpikiran sempit dan anti kemajuan.
Agama bagi mereka hanya layak untuk mereka para politisi pemecah persatuan-kebhinekaan penghamba kekuasaan.
Tapi apakah serendah itu agama? Bukankah agama diturunkan Tuhan untuk merawat kemanusiaan? Bukankah agama pernah menjadi semangat perjuangan untuk keadilan di berbagai zaman?
Resah gelisah kemudian menghinggapi diri saya, apa yang harus saya jawab kelak di hari penghitungan jika ada pertanyaan:
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala agama dari Tuhanmu kehilangan semangat kasih sayangnya dan hanya jadi alat pemukul semata?
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala orang-orang memanfaatkan agama untuk menggilas yang tak sepaham dengan mereka?
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala orang-orang menjual agama demi menambah pundi-pundi harta mereka saja?
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala agama dijauhkan oleh Fir’aun dan Qorun yang ada di tiap masa dari mereka yang papa, dhuafa, miskin, mustadh’afin?
Kemudian saya bangkit dari rasa gelisah dan yakin bahwa sungguh, sebenarnya agama hadir untuk memberi ketenangan, kedamaian, dan kasih sayang bagi kita semua bahkan pada mereka yang tak mau beragama.
Tetapi lagi-lagi kemudian saya sadar, bahwa yang saya pikirkan tadi adalah apa yang seharusnya tetapi bukan kenyataannya.
Akhirnya dalam doa saya berujar lirih namun tetap tak mau putus asa. Tuhan, tolonglah kami semua
Hari-hari ini kita saksikan orang-orang mulai muak dengan apapun yang mereka anggap serba agama.
Mereka muak karena bagi mereka agama hanya dijadikan alat untuk merengkuh kuasa semata.
Mereka muak karena semua yang berbeda dengan mudahnya dituduh sebagai penista agama.
Agama bagi mereka hanya layak untuk orang-orang yang berpikiran sempit dan anti kemajuan.
Agama bagi mereka hanya layak untuk mereka para politisi pemecah persatuan-kebhinekaan penghamba kekuasaan.
Tapi apakah serendah itu agama? Bukankah agama diturunkan Tuhan untuk merawat kemanusiaan? Bukankah agama pernah menjadi semangat perjuangan untuk keadilan di berbagai zaman?
Resah gelisah kemudian menghinggapi diri saya, apa yang harus saya jawab kelak di hari penghitungan jika ada pertanyaan:
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala agama dari Tuhanmu kehilangan semangat kasih sayangnya dan hanya jadi alat pemukul semata?
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala orang-orang memanfaatkan agama untuk menggilas yang tak sepaham dengan mereka?
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala orang-orang menjual agama demi menambah pundi-pundi harta mereka saja?
Kenapa kau diam saja tak bersikap kala agama dijauhkan oleh Fir’aun dan Qorun yang ada di tiap masa dari mereka yang papa, dhuafa, miskin, mustadh’afin?
Kemudian saya bangkit dari rasa gelisah dan yakin bahwa sungguh, sebenarnya agama hadir untuk memberi ketenangan, kedamaian, dan kasih sayang bagi kita semua bahkan pada mereka yang tak mau beragama.
Tetapi lagi-lagi kemudian saya sadar, bahwa yang saya pikirkan tadi adalah apa yang seharusnya tetapi bukan kenyataannya.
Akhirnya dalam doa saya berujar lirih namun tetap tak mau putus asa. Tuhan, tolonglah kami semua
98 views