Oleh Awa Nanda (Mahasiswa Departemen Manajemen Kebijakan Publik FISIPOL UGM 2014)

“Aku tak mau bermain bersamamu lagi, Bram !!!”

Bocah itu tidak menjawab, hanya meringkuk penuh kesesalan. Ia diejek, dicemooh, dihina, bahkan dilempari dengan batu.

Bram menangis tersedu-sedu ketika gerombolan teman-temannya pergi meninggalkannya. Ia menundukan kepalanya sambil duduk melipat kaki dipojokan lapangan bola. Sementara gerombolan terus tertawa sambil mengolok-oloknya ketika pergi.

Hari itu panas menyengat, sangat cocok untuk bocah usia 7-12 tahun bermain di luar rumah. Apalagi rumah Bram hanya berjarak 5 meter saja dari lapangan tersebut. Sebuah Lapangan Kampung sederhana. Tidak ada rumput, hanya ada semak liar yang tidak dirawat. Pohon-pohon rindang berdiri kokoh di sepanjang pinggiran lapangan. Ada juga 2 buah gawang diujung kiri dan kanan lapangan untuk bermain sepak bola

Seperti biasa, Bram keluar rumah untuk bermain bersama teman-temanya di lapangan. Tetapi yang didapatinya adalah cemoohan dari teman sepermainannya tersebut. Ia tidak bisa mengelak dari apa yang sudah terjadi belakangan ini. Akibatnya Bram yang menanggung semuanya. Dikucilkan ? bisa jadi seperti itu.

Wajahnya basah, matanya memerah, dan nafasnya tersendak. Ia menjadi teringat ketika pembicaraan yang akan membawa pada kegembiraan masa muda berubah menjadi kesengsaraan dan hinaan. Bukan, lebih tepatnya intimidasi. Semuanya terjadi karena apa yang sudah terjadi pada Kampung ini.

Adalah kampung kecil bernama Kampung Salak, yang terletak di daerah yang jauh dari kota di pegunungan. Sudah bisa ditebak, sesuai dengan namanya, produksi salak adalah komoditas utama penunjang ekonomi di Kampung ini. Para warga menanam salak di setiap Kebun mereka yang berupa lereng-lereng yang tidak begitu curam. Mereka menggantungkan hidup mereka dari hasil panen buah tersebut sebagai mata pencaharian utama, tak terkecuali orang tua Bram.

Orang tua Bram adalah seorang Petani Salak yang mempunyai kebun sendiri yang dikelola mandiri. Para tetangga lain juga melakukan pekerjaan yang sama, saling bantu dan gotong royong. Hingga mereka mendirikan Koperasi dagang yang menjual hasil panen mereka secara adil dan sehat. Di samping Koperasi tersebut terdapat beberapa kios atau lapak untuk menjual salak hasil produksi setempat. Para warga biasanya berjualan salak di Kios milik mereka sendiri. Satu kilogram salak diberikan harga 5 ribu rupiah untuk Koperasi dan dijual lagi 7 ribu rupiah kepada pelanggan oleh Koperasi.

Lalu suatu saat datanglah seorang Pengusaha yang berasal dari kota untuk berdagang salak. Pengusaha itu mempunyai modal yang sangat banyak. Mula-mula pedagang itu membeli 5 kios secara bersamaan. Kemudian digabung menjadi satu dan menjadi kios salak yang sangat besar.

Pengusaha tersebut tidak memproduksi salak sendiri. Ia membeli salak tersebut dari kampung sebelah, yang juga sama-sama sebagai kampung penghasil salak. Kemudian Pengusaha itu membeli salak seharga 5 ribu rupiah perkilo dan menjual kembali salak yang dibelinya dengan harga 6 ribu rupiah. Lebih murah 1 ribu rupiah dibanding dengan harga yang ditawarkan warga Kampung Salak. Dalam dunia bisnis, hal itu boleh saja dilakukan.

Setiap orang yang mempunyai akal sehat pasti akan memilih barang yang harganya lebih murah. Akibatnya para pelanggan salak yang notabenenya adalah langganan warga Kampung Salak, semuanya beralih menuju toko Si Pengusaha tersebut ketimbang warga Kampung Salak.

Para warga Kampung Salak sudah tidak mempunyai pembeli lagi jika mereka masih memasang harga 7 ribu rupiah perkilo. Para warga dan Koperasi sepakat bahwa mereka akan menurunkan harga mereka menjadi 6 ribu rupiah juga. Tidak masalah pendapatannya turun, yang penting mereka mempunyai pembeli lagi dan mendapatkan pemasukan kembali.

Namun Si Pengusaha juga tidak mau kalah. Ia menaikan harga beli salaknya menjadi 5,5 ribu rupiah perkilo yang semula 5 ribu rupiah perkilo. Akibatnya warga masyarakat Kampung Salak lebih memilih menjual salak hasil panennya kepada Pengusaha daripada ke Koperasi. Kios Si Pengusaha tersebut semakin besar dan bisa memainkan harga pasar. Stok salak Si Pengusaha semakin banyak dan stok salak di Koperasi semakin sedikit.

Ayah Bram yang merupakan penjual salak dan anggota Koperasi sangat jengkel dengan semua ini. Ia mengumpulkan warga untuk sama-sama mengajak untuk menaikan harga Koperasi sebesar 5,5 pula. Agar bisa bersaing dengan Si Pengusaha dan Koperasi juga tentunya mempunyai stok salak yang akan dijual lagi.

Tetapi Si Pengusaha sudah memborong semua salak yang ada. Baik di Kampung Salak maupun di kampung sebelah. Semua itu mungkin saja karena Si Pengusaha mempunyai modal yang sangat banyak. Berbeda dengan Koperasi yang mempunyai kas yang sedikit.

Pada akhirnya Koperasi warga Kampung Salak sudah tidak mempunyai salak lagi untuk dijual. Sangat ironi bagi orang yang memproduksi salak sendiri. Hanya segelintir orang seperti Ayah Bram dan beberapa kawan-kawanya yang masih bertahan dan bersaing dengan Si Pengusaha.

Hingga pada akhirnya Si Pengusaha menaikan harga belinya lagi menjadi 6 ribu rupiah perkilo. Teman-teman Ayah Bram banyak yang sudah menyerah dan akhirnya menjual salaknya kepada Si Pengusaha. Menyisakan ayah Bram seorang diri di dalam keanggotaan Koperasi.

Si Pengusaha tersebut kini telah menjadi tengkulak yang besar. Mampu memainkan harga kapan saja ia mau. Sama sekali bukan tandingan Ayah Bram yang hanya Petani salak kecil. Harga jual salak Si Pengusaha diturunkan lagi menjadi 6,5 ribu rupiah perkilo. Sementara harga jual salak Ayah Bram masih 7 ribu rupiah perkilo. Hal tersebut membuat Ayah Bram tidak mempunyai pelanggan sama sekali.

Ayah Bram sudah kalah. Hanya menyisakan idealisme yang dipahaminya. Bahwa kesejahteraan itu untuk bersama bukan untuk individu semata. Tetapi realitas atau kenyataannya berbeda. Ia harus menghadapi Kapitalisme yang mengancam kesejahteraan warga Kampung Salak. Ia harus memilih untuk terus hidup atau mempertahankan idealismenya.

Selang beberapa minggu kemudian Ayah Bram ikut menyerah dan turut menjual salaknya kepada Si Pengusaha. Secara otomatis Koperasi pun telah sepenuhnya milik Si Pengusaha sebagai tengkulak. Seluruh kios pun mampu dibeli oleh Si Pengusaha tersebut. Kemudian Si Pengusaha merombak seluruh keanggotaan Koperasi. Orang-orang kepercayaannya ditempatkan pada jabatan fungsional yang penting. Sementara Ayah Bram dan warga yang lain hanya sebagai anggota biasa.

Dalam rapat Koperasi, antek-antek Si Pengusaha merubah harga beli salak menjadi 3 ribu rupiah perkilo. Harga tersebut sangat tidak masuk akal. Sangat murah bahkan 2 ribu lebih murah dari harga sebelum kedatangan Si Pengusaha. Tetapi warga masyarakat Kampung Salak tidak punya pilihan lain selain menjual salaknya kepada Si Pengusaha yang telah menjadi pemilik Koperasi. Kini tidak ada lagi kompetisi karena seluruh kios telah dibeli. Si Pengusaha secara bebas dan leluasa untuk mengatur harga beli dan harga jual.

Penurunan harga beli ini membuat pendapatan warga Kampung Salak menjadi turun, bahkan bisa dikatakan merugi. Pendapatannya tidak sepadan dengan jumlah pengeluaran, perawatan pohon, pembelian pupuk, pestisida dan lain-lain untuk sebuah produksi salak. Hal ini menyebabkan kualitas hidup masyarakat menurun dan warga menjadi semakin miskin. Sementara Si Pengusaha semakin kaya dan memperbesar bisnis salak yang dimilikinya.

Ayah Bram yang sadar akan kemunduran ini mulai bergerak. Ia mengumpulkan masa, mulai dari okoh masyarakat, remaja, ulama setempat, dan para wanita untuk melakukan unjuk rasa atas ketidakadilan ini. Ayah Bram melakukan orasi dan memprotes tentang kebijakan Koperasi tentang harga beli salak yang murah. Sementara warga sudah tidak mempunyai suara dan kios lagi untuk menjual sendiri salak mereka di Koperasi.

Tiba-tiba sekelompok preman bayaran dan aparat keamanan Desa datang membubarkan aksi demo tersebut. Mereka adalah orang-orang bayaran dari Si Pengusaha untuk membubarkan aksi demo. Tidak sedikit dari mereka yang melakukan kekerasan. Para pendemo ketakutan dan segera membubarkan diri dari aksi demo tersebut.

Ayah Bram yang menjadi Koordinator lapangan pada aksi itu dihajar habis-habisan oleh preman dan aparat keamanan. Luka-luka yang diderita akibat kekerasan tersebut tidak dipertanggungjawabkan. Padahal Ayah Bram sudah melapor kepada Kepala Desa dan Pejabat yang berwenang setempat. Tetapi mereka sangat acuh bahkan mengusir Ayah Bram karena dianggap sebagai pengganggu keamanan Desa. Seluruh petinggi Desa sudah disogok oleh Si Pengusaha untuk mendukung bisnis yang dijalankannya.

Setelah itu muncul banyak Simpatisan dari para tetangga Desa kepada Ayah Bram. Beberapa kali warga masyarakat Kampung Salak melakukan aksi kembali. Namun hasilnya tetap sama, para preman dan aparat tidak terbendung, malah semakin menjadi-jadi ketika menggunakan kekerasan. Banyak dari para warga masyarakat Kampung Salak yang sudah menjadi korban Preman tersebut. Ayah Bram dan para pendemo lainya bahkan diancam secara tersirat.

Rasa takut menyelimuti warga Kampung Salak. Kemiskinan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Pejabat Desa apatis karena mendapatkan keuntungan dari Si Pengusaha salak tersebut. Warga harus menerima kesengsaraan yang dihadapi.

Emosi Ayah Bram sudah berada diujung tanduk. Wajahnya memerah dan kepalanya mulai berasap. Ketika rezim sudah menguasai dan borjuis tidak terbendung, maka hanya ada satu hal yang ada dibenak Ayah Bram. Malam itu dia merenung, tidak makan dan keluar dari kamar. Istrinya serta Bram sangat mengkhawatirkanya. Dari dalam kamar ia menangis. Kemudian ia memanggil istrinya dan Bram lalu berkali-kali mengucapkan kata maaf. Ia menjelaskan semua yang akan dilakukannya malam ini. Ketika tengah malam tiba ia memutuskan untuk bergerak.

Dengan mengambil golok dari dapur rumah, Ayah Bram pergi menyelinap keluar rumah lewat jendela. Kemudian ia berjalan ke arah rumah besar yang ada di pinggir Desa. Rumah itu adalah milik Si Pengusaha. Ayah Bram menyusup hingga masuk kedalam rumah. Melewati setiap pandangan penjaga rumah yang ada. Ia masuk kedalam rumah yang gelap dan mencari-cari kamar Si Pengusaha yang ternyata berada di lantai 3.

Ayah Bram berusaha untuk melakukan dengan cepat. Akhirnya dengan sekali tebasan golok dapur tersebut kepala Si Pengusaha terlepas dari badannya. Darah keluar dari tubuhnya dengan cepat. Membanjiri ruang kamar itu menjadi merah. Istrinya menjerit ketakutan. Anak-anaknya mampu diselamatkan oleh penjaga rumah. Sementara Ia sendiri segera kabur.

Pada pagi hari berikutnya Rumah besar itu menjadi tontonan para warga. Kejadian ini baru pertama kali terjadi di Kampung Salak. Para warga bertanya-tanya kepada satu sama lain.  Sementara Ayah Bram sudah menyerahkan diri kepada Polisi setempat dan membawa bukti golok dapur yang digunakan untuk memenggal. Ia menjelaskan semuanya, alasan mengapa ia harus membunuh Si Pengusaha. Kepala Desa, Aparat Desa dan antek-antek Pengusaha lain tidak terima. Mereka kehilangan sumber pendapatan mereka. Mereka sadar bahwa motif pembunuhan ini harus dirahasiakan.

Lalu antek-antek Pengusaha tersebut menyebarkan berita tentang pembunuhan Si Pengusaha yang dilatar belakangi oleh masalah percintaan. Bahwa Ibu Bram yang mana Istri Ayah Bram adalah Simpanan Si Pengusaha dan kecemburuan yang mengakibatkan terbunuhnya Si Pengusaha. Tidak hanya itu, mereka juga menyebarkan berita bohong tentang Ayah Bram yang membalaskan dendam dengan memperkosa Istri dan Anak Si Pengusaha. Tidak ada motif tentang ekonomi sama sekali didalamnya. Seluruh petinggi desa telah disogok oleh oleh uang untuk berita bohong tersebut.

Akibatnya masyarakat Kampung Salak menjadi sangat antipati bahkan membenci keluarga Bram. Ayah Bram divonis penjara selama 20 tahun. Dicap sebagai seorang pembunuh dan pemerkosa. Ibunya sangat dibenci dan dikucilkan oleh warga desa. Dicap sebagai wanita “Bisa dipakai” oleh setiap orang. Ibu Bram yang sudah tidak mempunyai penghasilan apapun benar-benar melakukan hal tersebut. Setiap malam pria-pria yang berbeda masuk kedalam rumahnya, dan itu juga diketahui oleh tetangga. Ia tidak punya pilihan lain untuk hidup selain melakukan ini.

Bram Si bocah juga terkena dampaknya. Bram adalah korban dari dosa yang bertingkat. Ia sering menjadi bahan olok-olok teman sepermainanya akibat masalah ini. Itulah sebabnya kini bocah itu sedang meringkuk sambil menangis di pojok Lapangan Desa. Sebuah ironi namun ini realitas yang terjadi. Ia akan tetap meringkuk sambil menangisi segala yang sudah terjadi.

91 views