Bismillahirrahmanirrahim

Minggu (17-9), hingga Senin (18-9) dini hari, terjadi pengepungan dan penyerangan di kantor LBH-YLBHI oleh ratusan massa. Berdasarkan Pers Rilis LBH-YLBHI, massa tersebut berusaha membubarkan kegiatan seni #AsikAsikAksi yang tengah digelar di kantor LBH-YLBHI. Acara tersebut merupakan bentuk kritik atas pembubaran seminar sejarah’65. Kemudian, Massa datang dengan isu yang tidak berdasar, yaitu menuduh LBH memfasilitasi deklarasi PKI; menyanyikan lagu Genjer-Genjer dalam acaranya; dan sebagainya. Sementara itu, LBH-YLBHI telah mengklarifikasi bahwa kegiatan yang digelar tidak ada kaitannya dengan PKI ataupun Komunisme. Namun, seminar yang digelar melalui forum akademik.

Selain itu, kami berpendapat bahwa isu kebangkitan Komunisme terus dipelihara di  masyarakat. Isu tersebut seolah-olah dirawat oleh sekelompok orang yang mempunyai kepentingan. Adalah pengetahuan umum bahwa mereka yang menyerukan kekerasan, berkoar-koar mengenai bahaya “kebangkitan PKI”. Kami pun berpendapat bahwa perlawanan terhadap suatu gagasan akan lebih efektif melalui kritik ilmiah, bukan melalui jalur kekerasan.

Penggunaan isu “kebangkitan PKI” oleh pemerintah maupun oposisi hanya akan mengukuhkan fakta bahwa Orde Baru (Orba) tidak pernah benar-benar berakhir dan cita-cita reformasi seolah-olah tak lebih dari sekadar mimpi. Saat ini yang tersisa hanyalah ketakutan abadi terhadap kebangkitan Komunisme, yang dengan licik dimanfaatkan pihak-pihak dengan kepentingan politik untuk menindas hak rakyat berdemokrasi, mengemukakan pendapat dan mencari keadilan dengan kekerasan.

Kami juga menyadari bahwa letupan kekerasan tidak hanya terjadi sekali ini saja. Setelah reformasi, bulan September seakan menjadi ajang tawuran dan intimidasi yang dilakukan kelompok-kelompok provokator dan ormas yang disokong tokoh politik. Kekerasan juga menjadi pertanda bahwa negara memilih diam terhadap ketidakadilan dan tindakan kekerasan, serta menunjukkan kemalasan pemerintah dalam melindungi hak warga negara yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945. Lebih buruk lagi, bulan September dan diskusi apapun mengenai tragedi di tahun 1965 menjadi ajang bagi para politisi untuk membuktikan rekor anti-PKI masing-masing.

Dari peristiwa tersebut dan berbagai informasi yang bergulir, kami melakukan pembacaan situasi yang terjadi dan menyimpulkan bahwa:

  1. Telah terjadi tindakan represif dan kekerasan yang mengancam demokrasi dan kebebasan berpikir
  2. Isu dan stigma PKI yang digulirkan merupakan bentuk ketakutan yang sengaja dirawat oleh kekuatan politik tertentu untuk mengamankan kepentingannya. Pola ini telah berlangsung sejak zaman Orde Baru dan terus digunakan hingga kini untuk membungkam sikap kritis serta menggebuk lawan politik. Penyebaran propaganda serta stigma PKI inilah yang menutup ruang pembacaan sejarah’65 secara kritis dan terbuka.
  3. Pembubaran forum akademik (16-9) merupakan bentuk kemunduran intelektual. Ketidaksepakatan terhadap gagasan mestinya dijawab dengan kritik ilmiah yang relevan.

 

 Sikap HMI Komisariat FISIPOL UGM

Maka berdasarkan pebacaan situasi dan prinsip-prinsip di atas, kami HMI Komisariat FISIPOL UGM memiliki sikap:

  1. Mengecam segala tindakan represif dan kekerasan yang terjadi, karena kehidupan demokrasi dan kebebasan berpikir harus dijaga
  2. Mendorong segala usaha pengkajian dan diskusi akademik terkait pelurusan sejarah di dalam ranah akademik yang terbuka dan bebas dari represi
  3. Mengajak generasi muda hari ini untuk tidak takut mempelajari sejarah bangsanya sendiri. Kita harus memutus rantai ketakutan yang terus menerus diwariskan. Tugas generasi hari ini adalah mempelajari berbagai perspektif dan konstruksi sejarah’65 dengan kritis. Segala perdebatan sejauh berada ranah keilmuan bukan suatu hal yang tabu dan bukan hal yang perlu dijawab dengan kekerasan
  4. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga perdamaian dan tidak mudah termakan informasi yang belum jelas sumbernya.

Semoga kita semua berada dalam lindungan kekuasaan Allah SWT.

 

Sleman, 18 September 2017

Pengurus Harian HMI Komisariat FISIPOL UGM Cabang Bulaksumur Sleman

Klik untuk mengunduh versi pdf