Sabtu (12/05/2018), terjadi ledakan bom di tiga gereja Surabaya, Jawa Timur. Bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria, selang sekitar 5 menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta, kemudian tidak lama setelah itu bom ketiga meledak di Gereja GKI Jalan Diponegoro. Dari pernyataan Kapolri saat konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018), semua serangan di tiga gereja adalah serangan bom bunuh diri yang diduga dilakukan oleh Suami, Istri dan Anaknya. Hingga kini total ada 13 korban tewas dan 41 korban luka. Jika dilihat dari latar belakang kasus ini, pelaku teror merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia yaitu JAT (Jamaah Ansarut Tauhid) dan JAD (Jamaah Ansarut Daulah). Pihak kapolri menduga bahwa ada dua alasan utama yang melatarbelakangi serangan-serangan ini, yaitu ISIS yang terdesak di Timur Tengah, dan kelompok-kelompok ISIS yang pemimpinnya ditahan polisi di Indonesia.

 

Terlepas dari latar belakang serangan ini, persoalan radikalisme di Indonesia masih menguat, sikap intoleran antar golongan maupun agama masih sering terjadi. Masih banyak kelompok-kelompok yang beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar adanya termasuk menghilangkan nyawa orang lain. Ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial dan perbedaan keyakinan seringkali menjadi motivasi teror ini terjadi. Teror yang selalu mengatasnamakan perjuangan Islam nyatanya sama sekali tidak Islami dari sudut pandang kami. Karena adanya kesalahan dalam memaknai substansial Islam yaitu Tauhid. Tauhid yang mereka yakini berbeda dengan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Islam. Bagi kami tidak ada satupun agama yang menghalalkan bunuh diri, menyiksa diri sendiri, dan menghilangkan nyawa orang lain dengan alasan apapun. Merusak tempat ibadah termasuk tempat ibadah pemeluk agama lain juga hal yang tidak diajarkan dalam Islam. Kami berpendapat bahwa tidak ada satupun alasan untuk membenarkan serangan aksi teror ini. keterlibatan perempuan dan juga anak dibawah umur dalam tindakan kekerasan dan terorisme ini adalah tindakan yang menyalahi nalar manusia. Apalagi ketika kondisi yang terjadi adalah tidak adanya pemahaman yang tepat oleh perempuan dan anak kecil tersebut.

 

Selain itu sejak munculnya kasus ini, sadar ataupun tidak selain rasa empati yang besar, masih ada saja kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan hal ini untuk agenda politik tertentu di media. Pemanfaatan isu teror ini untuk agenda politik bisa diamati di media sosial, ketika isu ini justru digunakan untuk saling menyerang antar kubu politik. Dari peristiwa tersebut dan berbagai informasi yang bergulir, kami melakukan pembacaan situasi yang terjadi dan menyimpulkan bahwa:

  1. Adanya ancaman kekerasan dan teror terhadap masyarakat.
  2. Dilibatkannya anak-anak dari tindakan-tindakan kejahatan ini.
  3. Adanya pemanfaatan aksi ini untuk agenda politik.

Sikap HMI Komisariat FISIPOL UGM

Maka berdasarkan pembacaan situasi tersebut, kami HMI KOMISARIAT FISIPOL UGM memiliki sikap:

  1. Mengecam segala tindakan kekerasan dan teror terhadap masyarakat.
  2. Mengutuk keras pelibatan anak-anak dari berbagai tindakan kejahatan tersebut.
  3. Menolak pemanfaatan rasa empati masyarakat untuk agenda kepentingan politik.
  4. Mendukung upaya pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini.
  5. Menghimbau seluruh masyarakat untuk tidak menyebarkan kepanikan yang bisa mendukung tujuan para kelompok teror tersebut.
  6. Mengajak seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat untuk membuka ruang diskusi bagi mereka yang sangat mudah disisipi paham-paham radikalisme. Terlepas dari ada atau tidaknya kasus teror bom ini.
  7. Menyadari pentingnya toleransi dengan merangkul orang-orang yang berbeda semampu kita dimulai dari lingkungan sekitar kita.
  8. Terakhir ucapan belasungkawa dan semangat untuk melawan terorisme kami berikan kepada saudara-saudara di Surabaya.

Semoga kita terus berada dalam lindungan Allah SWT.

 

 

 

 

Sleman, 14 Mei 2018

Pengurus Harian HMI Komisariat FISIPOL UGM

Cabang Bulaksumur Sleman

145 views