Oleh : Rosemeini Heraningtyas

Pendahuluan
Pertumbuhan penduduk yang massif dari tahun ketahun memiliki andil dalam peningkatan jumlah pengunjung di kota Yogyakarta, disebutkan terdapat 5.229.289 jiwa wisatawan dalam dan luar negeri di tahun 2017 yang sebelumnya hanya 4.549.574 jiwa ditahun 2016 (Dinas Pariwisata DIY, 2017). Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pertumbuhan Indonesia pada tahun 2018 mencapai 265 juta jiwa dengan proporsi 131,88 juta perempuan dan 133,17 juta jiwa laki-laki (Databoks.co.id, 2018). Pertumbuhan penduduk dan peningkatan wisatawan di Yogyakarta menjadi salah satu faktor dalam peningkatan laju urbanisasi di Kota Yogyakarta. Hal ini diungkapkan melalui data statistik sebesar 75,2% dengan proyeksi 79,3% ditahun 2020 (PIP2B, 2015). Fenomena tersebut berimbas pada menjamurnya tempat tinggal maupun perumahan yang nyaman di Kota Yogyakarta. Permintaan yang tinggi mengharuskan pembangunan perumahan gencar terjadi, baik perumahan biasa maupun perumahan elit.
Pertumbuhan perumahan elit di Yogyakarta semakin hari semakin tinggi dan diminati masyarakat. Baik untuk kebutuhan tempat tinggal ataupun hanya untuk berinvestasi. Kota yang strategis, nyaman, dan terdapat banyak tempat wisata menjadi daya tarik tersendiri dalam pemicu pertumbuhan perumahan elit. Selain memiliki fasilitas lengkap, bangunan yang megah, perumahan elit juga menawarkan keamanan yang terjamin. Hal ini menjadi peluang bagi pasar untuk menangkap permintaan masyarakat untuk menyediakan hunian modern dan eksklusif bagi kelas menengah keatas. Perumahan tersebut menonjolkan eksklusifitas yang menimbulkan munculnya segregasi spasial yang berdampak pada terbentuknya komunitas berpagar melalui perumahan tersebut. Untuk menganalisis permasalahan tersebut, penulis menggunakan studi kasus perumahan elit Bale Hinggil Yogyakarta.
Terminologi Ruang
Ruang adalah tempat untuk melangsungkan segala aktivitas dan kegiatan makhluk hidup. Ruang memiliki peran dalam menciptakan entitas, tidak hanya itu, ruang juga mampu menciptakan kontestasi, maupun mereproduksi ruang. Henri Lefebvre dalam tulisan The Production of Space memperkenalkan gagasan pendekatan trikotomis dalam melihat ruang. Tiga pendekatan tersebut yaitu : praktik representasi, representasi ruang, dan ruang representasi. Praktik spasial adalah wujud dari reproduksi hubungan spasial antara objek dan produk berupa fisik dan material. Representasi ruang merupakan pola hubungan produksi yang memaksa adanya pola hubungan tertentu atau pemakaian ruang. Ruang representasi adalah ruang hidup yang nyata dan berkaitan dengan simbol dan interaksi antar ruang (Nugroho, 2014).
Pemahaman ruang tidak hanya berhenti melalui pendekatan trikotomi, namun juga melalui dimensi penciptaan ruang. Henri Lefebvre juga memberikan pemahaman tentang dimensi penciptaan ruang yaitu : perceived space, conceived space , dan lived space. Perceived space memiliki arti bahwa ruang mampu dijangkau oleh indera. Conceived space adalah arti bahwa ruang tidak dapat dijangkau tanpa melalui desain pikiran. Lived space merupakan pemahaman ruang tentang pengalaman manusia dalam kehudupan sehari-hari.
Segregasi Spasial
Segregasi spasial merupakan suatu sekat pembentuk yang hakikatnya berasal dari manifestasi keragaman kondisi, baik dari segi sosial maupun ekonomi yang mempengaruhi suatu perubahan (Diningrat, 2015). Menurut Leaf, sekat yang ada pada ruang mengakibatkan adanya batas antara penghuni ruang melalui kondisi sosial ekonomi sehingga memunculkan komunitas berpagar (gated community). Terjadinya segregasi spasial mencakup beberapa poin yang menjadi dasar yaitu berdasarkan etnik, suku, ideologi, golongan atau kelompok, kepentingan, dan asal daerah. Perbedaan lingkungan atau ruang perkotaan seperti kaya dan miskin sudah mampu dikatakan sebagai salah satu bentuk segregasi spasial. Pada khasus tersebut terdapat sekat dalam ruang yang membatasi baik aktivitas fisik atau non fisik yang membatasi mereka untuk saling berinteraksi.
Terdapat beberapa poin penting yang menjadi pendorong tumbuhnya segregasi spasial yaitu Pertama, karakteristik geografis dan fisik kota, hal ini mampu menjadi faktor pendorong dalam tumbuhnnya komunitas berpagar. Sebagai contoh sungai, gunung, atau danau mampu menjadi sekat pembentuk batas antar ruang. Kedua, kebijakan tata ruang adalah produk dari regulasi yang mampu melahirkan batas ruang dengan diikuti oleh implementasi. Sebagai contoh terdapat peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang larangan memasuki kawasan tertentu. Ketiga, perubahan nilai masyarakat adalah faktor yang berasal dari dalam masyarakat, perubahan nilai ataupun norma yang dianut mampu melahirkan batas ruang. Peningkatan keamanan lingkungan perumahan menjadi salah satu contoh dalam perubahan nilai yang dianut masyarakat, sehingga perlu adanya batas portal, pos satpam, jam kunjung, dan lain-lain. Keempat, pasar dan proses produksi merupakan faktor pendorong dari luar yang mulai berlakunya hukum pasar atas permintaan dan penawaran. Greenstein juga mengatakan bahwa segregasi spasial terjadi pada pengembangan perumahan berskala besar yang diakibatkan oleh tingginya permintaan dan penawaran (Diningrat, 2015). Konsep permintaan dan penawaran ini berupa permintaan hunian (perumahan) mewah, modern, eksklusif, memiliki banyak fasilitas, dan nyaman.
Pandangan tentang segregasi spasial juga disampaikan oleh Falah dalam tiga teori yaitu Pertama, teori kelas yang diartikan sebagai sekat atas ruang yang diakibatkan oleh perbedaan kelas sosial-ekonomi. Kedua, teori segregasi diri-sendiri yang menyatakan terkait penyekatan keruangan karena preferensi dan keinginan seseorang untuk tinggal dilingkungan yang memiliki kesamaan status, etnik, ataupun ideologi. Ketiga, teori diskriminasi merupakan fanatisme kelompok untuk meletakkan kelompok lain berada diluar lingkugannya baik karena tidak memiliki kriteria yang sama atau karena terdapat faktor lain (Diningrat, 2015). Lahirnya segregasi spasial juga disebabkan karena rendahnya empati yang dimiliki masyarakat terhadap lingkungan sekitar. Karakter masyarakat kota yang modern, praktis, dan individualis menghilangkan kebiasaan interaksi sosial yang mengharuskan mereka untuk memilih hunian yang bebas dari gangguan, kebisingan, keamanan tinggi, dan memiliki kenyamanan yang terjamin.
Kelas-Kelas dalam Masyarakat
Kelas-kelas masyarakat merupakan pembahasan tentang lapisan masyarakat yang tidak semuanya memiliki pengertian yang sama. Max Weber memberikan pengertian yang berbeda antara dasar ekonomi dan dasar kedudukan sosial, namun Marx tetap memberikan istilah yang sama yaitu kelas sosial. Joseph S. menjelaskan tentang kelas dalam masyarakat dapat dimengerti apabila kita mengetahui riwayat terjadinya. Definisi kelas sosial juga dijelaskan melalui kriteria berikut yaitu : besar ukuran jumlah anggotanya, kebudayaan yang sama, yang menentukan hak-hak dan kewajiban warganya serta kelanggengan, tanda-tanda atau lambang-lambang yang merupakan suatu ciri khas, batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu terhadap kelompok lain), dan antagonisme tertentu (Soerjono Soekanto, 2014).
Dasar lapisan masyarakat yang mampu menentukan kelas sosial terdiri dari beberapa kriteria untuk dapat digolongkan. Ukuran atau kriteria yang dipakai untuk menggolongkan yaitu : ukuran kekayaan menjadi tolak ukur yang dapat dilihat, ukuran kekuasaan terkait bagaimana status orang tersebut dilingkungannya, ukuran kehormatan yang sering dijumpai dikalangan masyarakat tradisional, dan ukuran ilmu pengetahuan yang dapat diperolek melalui jenjang pendidikan (Soerjono Soekanto, 2014).
Segregasi Spasial di Ruang Perkotaan dalam Perumahan Bale Hinggil
Perumahan Bale Hinggil menjadi hunian elit yang terletak dikawasan strategis. Berbagai fasilitas lengkap ada didalam perumahan tersebut termasuk dengan memfasilitasi keamanan lingkungan. Tidak hanya melalui penjagaan, tetapi juga dengan pembangunan tembok dan pagar tinggi. Tembok dan pagar yang tinggi menjadi batas dan sekat dalam mengakses ruang. Hal ini menimbulkan adanya segregasi spasial yang terjadi melalui konteks keamanan. Segregasi spasial yang tercipta melalui Perumahan Balai Hinggil merupakan manifestasi dari segi sosial dan ekonomi. Perbedaan lingkungan secara jelas muncul dalam ruang perumahan Bale Hinggil antara orang kaya berpenghasilan tinggi yang tinggal didalamnya dengan masyarakat biasa yang berpenghasilan menengah kebawah. Pada khasus tersebut terdapat sekat dalam ruang yang membatasi baik aktivitas fisik atau non fisik yang membatasi mereka untuk tidak saling berinteraksi. Menurut hasil wawancara yang dilakukan dengan satpam Bale Hinggil, narasumber memaparkan bahwa penghuni hanya keluar dari perumahan untuk kegiatan kerja, pergi ke pusat perbelanjaan, atau keluar kota. Tidak ada aktivitas yang dilakukan antara warga penghuni Bale Hinggil dengan masyarakat kampung sekitar. Bahkan dipaparkan jika penghuni di dalam perumahan antar rumah ke rumah tidak kerap melakukan kegiatan interaksi satu sama lain. Pola individualis menjadi gaya hidup millennial yang berkembang dalam lingkungan tersebut. Lebih dari itu, terkadang kerap ditemukan rumah yang hanya ditinggali oleh pembantu, baby sitter, dan anak dari pemilik rumah. Kegiatan bermain dan berinteraksi difasilitas perumahan lebih banyak dilakukan oleh baby sitter dan pembantu rumah tangga.
Terdapat dua faktor penting yang menjadi latar belakang kemunculan segregasi spasial di Perumahan Bale Hinggil yaitu perubahan nilai masyarakat dan pengaruh pasar. Perubahan nilai masyarakat yang terjadi dalam studi kasus ini berupa pemahaman kesepakatan keamanan bersama yang lahir melalui batas ruang. Penghuni perumahan meyakini keamanan akan tercipta dengan adanya tembok dan pagar yang tinggi serta penjagaan satpam 24 jam. Namun, hal inilah yang memunculkan segregasi spasial dan berakibat pada pembatasan aktivitas sosial. Segregasi spasial terjadi karena dua sebab yaitu karena sumberdaya-pasar dan kelas-ekonomi. Kedua penyebab tersebut mampu melahirkan spatial inequality yang diartikan sebagai perebutan wilayah yang memiliki sumberdaya yang tinggi atau dikawasan strategis kota. Adanya spatial inequality mampu melahirkan adanya sosial segregasi. Segregasi sosial yang terjadi di Bale Hinggil difasilitasi dengan pembangunan serta penataan ruang fisik yang tidak memperbolehkan semua orang masuk. Kesan eksklusif yang ditawarkan ternyata justru memberikan pembatasan dan mengakibatkan adanya segregasi.

Bahkan dalam satu kompleks Bale Hinggil, konsep tatanan Rukun Tetangga (RT) tidak menyatu dengan warga sekitar, mereka memiliki paguyuban yang memiliki fungsi sama seperti RT. Hal ini memperkecil ruang gerak warga penghuni perumahan untuk berinteraksi dengan warga diluar batas pagar. Bukan hanya batas spasial yang diciptakan tetapi juga batas sosial yang lahir bersama perkembangan perumahan.
Pengaruh pasar mampu menjadi salah satu faktor pendorong lahirnya segregasi spasial. Pengaruh pasar terkait kebutuhan hunian dilokasi strategis menjadi peluang bisnis yang menjanjikan dan hal tersebut dapat ditanggap dengan baik oleh para pengembang perumahan. Konsep permintaan dan penawaran ini berupa permintaan hunian (perumahan) mewah, modern, eksklusif, memiliki banyak fasilitas, dan nyaman (Diningrat, 2015). Pola hubungan tersebut melahirkan adanya representasi ruang antara produksi perumahan yang dilakukan oleh pengembang Formula Land dengan konsep eksklusif dan menjamin keamanan memaksa pembatasan interaksi antar individu didalam dan diluar pagar. Bale Hinggil juga telah membentuk ruang representasi melalui simbol berupa sekat pagar dan tembok yang tinggi sebagai pembatas interaksi antar ruang penghuni Bale Hinggil dengan warga diluar perumahan. Sehingga perlu kita ketahui terdapat fragmentasi ruang perkotaan yang mengembangkan kawasan baru atau kawasan elit dan mengganti kawasan mereka yang tidak mampu. Perumahan Bale Hinggil dibangun oleh Formula Land dengan sasaran pembeli adalah kalangan kelas atas, seperti pejabat, artis, ataupun pengusaha. Permintaan perumahan eksklusif dan memiliki fasilitas lengkap diwujudkan oleh pengembang melalui Bale Hinggil. Mereka yang membeli ataupun berinvestasi diperumahan Bale Hinggil tidak hanya melahirkan segregasi spasial, tetapi juga segregasi diri-sendiri. Hal tersebut dapat dijelaskan melalui keinginan untuk tinggal ditempat tersebut dengan adanya penyekatan keruangan karena preferensi keamanan yang terjamin dan keinginan seseorang untuk tinggal dilingkungan orang yang memiliki kesamaan status kelas sosial, yang dalam hal ini orang-orang kaya.
Segregasi Spasial dan Kelas Sosial
Lahirnya perumahan elit yang menonjolkan kesan ekslusif mau tidak mau memang memperlihatkan tumbuhnya segregasi spasial di wilayah perkotaan. Pemisahan ruang yang terlahir dalam Bale Hinggil berupa praktik spasial dari wujud reproduksi hubungan antara penghuni dengan pagar pembatas yang diartikan sebagai salah satu bentu keengganan untuk berinteraksi dengan lingkungan luar. Keengganan ini memiliki hubungan erat dengan kelas sosial yang berkembang di masyarakat. Seperti yang disampaikan Falah terdapat teori kelas yang mempengaruhi segregasi spasial, hal ini juga terjadi di Perumahan Bale Hinggil melalui adanya sekat atas ruang yang diakibatkan oleh perbedaan kelas. Secara nyata terlihat orang-orang yang berada di dalam pagar merupakan masyarakat yang berkemampuan ekonomi tinggi dan di luar pagar adalah masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah. Kelas sosial tersebut dapat dilihat dengan ukuran kekayaan, dan kesepakatan tak tertulis bahwa yang tinggal di Perumahan Bale Hinggil adalah orang kaya. Dengan harga yang fantastis mencapai 7 miliar rupiah jelas hanya kalangan elit yang mampu membeli perumahan tersebut. Tidak sembarang orang, hanya mereka yang berpenghasilan tinggi dengan bukti mereka yang tinggal diperumahan tersebut yaitu pengusaha, artis, pejabat, ataupun akademisi sukses. Kelas sosial yang tercipta melalui akses ruang terhadap perumahan Bale Hinggil termasuk dalam kriteria munculnya lambang-lambang yang merupakan suatu ciri khas, batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu terhadap kelompok lain) sebagai sekat pemisah. Sehingga jelas bahwa pengaruh kelas sosial melalui ukuran kekayaan dan perekonomian seseorang mampu menciptakan segregasi ruang melalui pilihan hunian.
Kesimpulan
Melalui analisis tersebut, dapat kita ketahui tentang pandangan segregasi spasial melalui dua poin penting yaitu teori kelas yang diartikan sebagai sekat atas ruang yang diakibatkan oleh perbedaan kelas sosial-ekonomi, antara orang kaya yang menghuni Bale Hinggil dengan masyarakat diluar pagar. Teori segregasi diri-sendiri yang menyatakan terkait penyekatan keruangan karena preferensi dan keinginan seseorang untuk tinggal di lingkungan yang memiliki kesamaan status dan kelas sosial tertentu dalam hal ini para kalangan elit. Kelas sosial mampu menciptakan segregasi spasial dengan dorongan keinginan dari diri sendiri sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan eksklusif. Dorongan dari diri tersebut lahir melalui kemampuan ekonomi seseorang untuk memilih hunian elit. Faktor utama pendorong tumbuhnya komunitas berpagar dalam konteks Bale Hinggil yaitu : perubahan nilai masyarakat dan pengaruh pasar. Perubahan nilai masyarakat melalui terjaminnya keamanan lingkungan menjadi faktor utama yang ditangkap pasar untuk mengembangkan hunian khusus dengan batas-batas jelas berupa pagar dan tembok ataupun penjagaan satpam 24 jam. Pengaruh pasar lahir melalui permintaan dan penawaran akan hunian nyaman, memiliki fasilitas lengkap, letak strategis, dan keamanan terjamin yang terus diminati masyarakat. Hal inilah dikembangkan Formula Land dalam pembangunan Bale Hinggil yang ditujukan untuk kalangan yang memiliki basis kelas ekonomi tinggi.
Segregasi spasial antara kaya dan miskin mengakibatkan adanya spatial inequality yang melahirkan segregasi sosial.

Perumahan Bale Hinggil telah mengalami segregasi sosial dengan bukti tidak ada aktivitas yang dilakukan antara warga penghuni Bale Hinggil dengan masyarakat kampung sekitar. Bukti nyata lain berupa tatanan Rukun Tetangga yang tidak menjadi satu dengan masyarakat sekitar namun, terdapat paguyuban yang memiliki fungsi seperti RT dan beranggotakan warga perumahan saja. Oleh karena itu, segregasi spasial dalam ruang perkotaan akan lahir melalui praktik spasial, representasi ruang, dan ruang representasi yang bertumpu pada kelas sosial tertentu.

Daftar Pustaka

Databoks.co.id. (2018). 2018, Jumlah Penduduk Indonesia Mencapai 265 Juta Jiwa. Jakarta: katadata.co.id.
Dinas Pariwisata DIY. (2017). Statistik Kepariwisataan 2017. Yogyakarta: https://visitingjogja.com.
Diningrat, R. A. (2015). Segregasi Spasial Perumahan Skala Besar: Studi Kasus Kota Baru Kota Harapan. ResearchGate, 1-20.
Kompas.com. (2017). Pariwisata Dongkrak Harga Rumah di Yogyakarta. Yogyakarta: https://ekonomi.kompas.com.
LKIP. (2016). Produksi Ruang dan Revolusi Kaum Urban Menurut Henri Lefebvre. Indoprogress, 1-4.
Nugroho, G. P. (2014). Malioboro dan Dialektika Ruang Sosial. Yogyakarta: Academia.edu.
PIP2B. (2015). Tingkat Persentase Proyeksi Urbanisasi Provinsi D. I. Yogyakarta: 2 www.pip2bdiy.org/sigperkim/kbijakn.php.
Soerjono Soekanto, B. S. (2014). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

46 views