Oleh : Deny Raditya Atmosuwito (Mahasiswa Dept. MKP 2014)

 

Mencari hubungan antara bulan November, Sutan Sjahrir, dan Jiraiya (tokoh dalam manga dan anime “Naruto”) memang sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Bulan November adalah bulan yang istimewa dalam perjalanan kedua tokoh yang terlihat jauh berbeda tersebut (Sjahrir adalah tokoh nyata sedangkan Jiraiya adalah tokoh rekaan Masashi Kishimoto, sang pengarang Manga). Tujuh puluh dua tahun yang lalu, tepatnya tanggal 10 November 1945 yang kemudian lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai Hari Pahlawan Nasional, untuk pertama kalinya sebuah pamflet yang bisa dibilang sebagai karya intelektual terbesar Bung Kecil, Sutan Sjahrir, yang diberi judul “Perjuangan Kita” pertama kali dipublikasikan. Tentang hubungan dengan bulan November, Jiraiya barangkali lebih sederhana. Masashi Kishimoto memberi Jiraiya tanggal lahir 11 November, tidak lebih tidak kurang.

Kembali ke pamflet Sjahrir,“Perjuangan Kita”. menurut Benedict Anderson dalam Our Struggle: Introduction (1968), pamflet tersebut adalah suatu analisis situasi yang menyeluruh, suatu kritik mengenai kebijakan pemerintah dan personelnya, dan suatu program rasional bagi perjuangan masa depan diagnosis masalah-masalah kontemporer Indonesia yang paling jelas terartikulasikan dan satu-satunya program yang koheren bagi perjuangan kebangsaan selama tahun-tahun konflik fisik dengan Belanda”. Benedict Anderson menambahkan bahwa pamflet tersebut “mungkin hanya dapat diperbandingkan dengan program radikal “Merdeka 100%” Tan Malaka untuk Persatuan Perjuangan”. Sama seperti Sjahrir, Jiraiya juga menulis meskipun dia lebih banyak menulis novel-novel dewasa. Tetapi setidaknya ada satu karyanya yang menjadi pedoman perjuangan shinobi generasi-generasi selanjutnya -sama seperti “Perjuangan Kita” yang mengilhami para pemuda pengikut Sjahrir- yaitu novel pertamanya.

Sjahrir dan Jiraiya punya satu kesamaan lain selain sama-sama menulis sebuah pedoman perjuangan generasi masa depan. Mereka berdua sama-sama menyiapkan generasi masa depan yang akan menjalankan pedoman perjuangan yang sudah mereka tuliskan. Sjahrir menjadi mentor generasi muda kala itu seperti Soedjatmoko, T.B. Simatupang, Hamid Algadri, Djohan Sjahroezah, Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Ali Budiharjo (suami ilmuwan politik Indonesia yang bukunya “Dasar-Dasar Ilmu Politik” sampai saat ini dibaca oleh hampir semua mahasiswa baru ilmu sosial dan ilmu politik di Indonesia, Miriam Budiharjo), Mariah Ulfa Soebadio (perempuan pertama yang menjadi menteri di Indonesia), Sudarsono (ayah dari Prof. Dr. Juwono Sudarsono), Soebadio Sastrosatomo, Sudarpo Sastrosatomo, dan beberapa pemuda lainnya. Sedangkan Jiraiya menjadi mentor Uzumaki Nagato, Yahiko, Konan, Namikaze Minato, dan sang tokoh utama Uzumaki Naruto.

Melembagakan Gagasan

Yang sedikit membedakan antara keduanya (Sjahrir dan Jiraiya) adalah keberlanjutan gagasan mereka. Sutan Sjahrir berhasil “melembagakan” gagasannya menjadi Partai Sosialis Indonesia (PSI) sedangkan gagasan Jiraiya tidak terlembagakan dan hanya menjadi warisan personalnya kepada “Sang Anak dalam Ramalan”, Uzumaki Naruto. Hasilnya jelas berbeda, gagasan Sjahrir kemudian secara sistematis kemudian dapat diperjuangkan dalam satu wadah yang konkrit yang kemudian dapat mencetak penerus-penerus perjuangan sedangkan gagasan Jiraiya tidak. Di kemudian hari meskipun Partai Sosialis Indonesia (PSI) dibubarkan oleh rezim Demokrasi Terpimpin, tetapi PSI mengutip Indonesianis asal Australia John D. Legge telah menjadi state of mind sehingga tetap bisa melahirkan orang-orang seperti Soe Hok Gie, Soe Hok Djin (Arief Budiman), Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (Romo Mangun), Rahman Tolleng, Ismid Hadad, Nono Anwar Makarim, Daniel Dhakidae, dan lain-lain.

Salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pertama di Indonesia, Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang berdiri pada tahun 1971 juga merupakan salah satu warisan dari orang-orang yang berpandangan Sjahririan. Lembaga yang lahir dari kerjasama antara anak-anak muda PSI dan anak-anak muda Masyumi (yang pada saat itu aktif di HMI) tersebut adalah lembaga yang menjadi pelopor penerbitan buku-buku teks perkuliahan dalam bahasa Indonesia yang benar-benar buku teks karena sebelumnya buku teks perkuliahan dalam bahasa Indonesia hanya sekadar catatan perkuliahan yang dibuat oleh dosen atau pengajar. LP3ES juga merupakan lembaga yang mempelopori program pemberdayaan pesantren di Indonesia, menginisasi berdiriya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) di seluruh Indonesia, serta menerbitkan majalah ilmu sosial paling terkenal dan berpengaruh di Indonesia sampai saat ini, Prisma. Penulis rasa dalam urusan melembagakan gagasan, mahasiswa-mahasiswa di Universitas Gadjah Mada harus belajar dari Sutan Sjahrir.

Sjahrir, Jiraiya, dan Pemilwa

Terlepas dari perbedaan soal keberhasilan melembagakan gagasan, Sutan Sjahrir dan Jiraiya lagi-lagi punya satu kesamaan. Mereka berdua sama-sama pejuang kemanusian yang terlupakan atau lebih buruk lagi sengaja dilupakan. Mengutip Romo Mangun “Jika Soekarno boleh kita jadikan personifikasi dari ideal KESATUAN DAN PERSATUAN serta KESADARAN IDENTITAS BANGSA INDONESIA, dan apabila Mohammad Hatta boleh kita anggap sebagai personifikasi cita-cita Indonesia yang DEMOKRATIS, baik dalam anti POLITIK maupun EKONOMI, ANTI KAPITALISME dan pendekar kerakyatan yang berstruktur KOPERASI, maka dalam diri Sutan Sjahrir kita dapat menemukan pemribadian cita-cita KEMANUSIAAN, PERIKEMANUSIAANYANG BERBUDAYA, dan sikap yang sangat tinggi MENGHARGAI MANUSIA INDONESIA SELAKU PRIBADI-PRIBADI, TANPA LEPAS DARI DIMENSI KESOSIALANNYA”.

Jiraiya hampir mirip dengan Sjahrir soal kemanusiaan, dia barangkali merupakan satu-satunya tokoh yang oleh Kishimoto digambarkan sebagai shinobi yang punya perhatian besar pada kemanusiaan. Jiraiya adalah satu-satunya tokoh yang mau menjadikan anak-anak dari desa selain desanya sendiri sebagai murid (Jiraiya berasal dari Desa Konoha sedangkan Nagato, Yahiko, dan Konan berasal dari Amegakure) atas dasar kemanusiaan tidak seperti Orochimaru yang menjadikan anak-anak dari desa lain sebagai kelinci percobaan itulah yang menjadikan Jiraiya seorang kosmopolitan. Di tengah kondisi dunia shinobi yang penuh intrik, konflik, dan gejolak, Jiraiya adalah satu-satunya tokoh yang percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya pasti bisa memahami manusia lain. Jiraiya menempatkan manusia sebagai manusia.

Lantas apa kaitannya dengan sub judul “pemilwa”? jawabannya sederhana. Terlepas dari siapapun kontestannya, berapapun jumlah pemilihnya, diakui atau tidak hasilnya, pemilwa pada dasarnya adalah tentang mahasiswa (meskipun harus kita akui bahwa tidak sedikit yang beranggapan bahwa pemilwa adalah soal kekuasaan di satu sisi dan tidak lebih dari omong kosong di sisi lain) dan mahasiswa pada dasarnya adalah manusia. “Sang Demonstran” Soe Hok Gie (yang notabene merupakan pengagum Sutan Sjahrir) dalam tulisannya yang dimuat pada tanggal 12 Mei 1969 di koran Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat menulis bahwa “Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi ‘manusia-manusia yang biasa’. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia”. Mahasiswa semacam itulah yang menurutnya adalah “Manusia-manusia yang berkepribadian, tetapi tidak berlebih-lebihan”.

Pemilwa adalah tentang manusia, yang dilaksanakan oleh manusia, dan seharusnya berbicara tentang manusia juga. Bertahun-tahun kita saksikan perdebatan tentang pemilwa dan sistem di KM UGM selalu soal bentuk, kewenangan, golongan yang mendominasi, legitimasi, dan perebutan posisi. Jarang sekali atau mungkin hampir tidak pernah ada pembicaraan atau wacana tentang bagaimana memanusiakan mahasiswa yang pada dasarnya adalah manusia biasa? Bagaimana menciptakan kondisi kehidupan kemahasiswaan yang menghargai perbedaan pandangan yang merupakan fitrah manusia? Bagaimana menciptakan kondisi kehidupan kemahasiswaan yang menghargai setiap minat, bakat, dan potensi dari setiap mahasiswa sebagai manusia? Bagaimana menciptakan kondisi kehidupan kemahasiswaan yang bisa menciptakan kerjasama antar mahasiswa sebagai manusia-manusia yang pada dasarnya saling membutuhkan? Bagaimana menciptakan kondisi kehidupan kemahasiswaan yang menyadarkan setiap mahasiswa bahwa sebenarnya kita semua tidak kurang dan tidak lebih dari manusia biasa saja?

Perdebatan tentang pemilwa dan sistem Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada seolah menjadikan kita lupa dengan kemanusiaan kita. Gagasan tentang kemanusian tak pernah muncul di permukaan apalagi bisa terlembagakan. Barangkali alih-alih terus menerus gontok-gontokan, saling serang, berkampanye sambil memamerkan prestasi diri sendiri, dan melakukan berbagai cara untuk memenangkan kontestasi (pemilwa) yang pertama kali harus kita lakukan adalah bertanya, “Masih manusiakah kita?”.

 

 

 

 

112 views