Jumat, 9 Maret 2018, Pukul 16.20-18.00 | Digilib Café FISIPOL UGM | Pembicara: Faldo Maldini | Moderator : Defila Priana F. | Notulis : Oktafia Kusuma

 

Seiring berkembangnya teknologi memengaruhi kemudahan dalam meimpin terutama dalam proses menyebarkan dan berbagi informasi. Dalam proses mempersiapkan diri, tuntutan akademik dan organisasi diakui sulit bisa dipenuhi berimbang. Jika ada yang mampu sama-sama baiknya, kemungkinan satu dari berapa ribu orang. Waktu yang dimiliki orang setiap harinya sama yaitu 24 jam. Sedangkan dalam mengurus salah satunya menyita banyak waktu. Akan tetapi waktu dan tenaga yang telah dihabiskan pada salah satunya (organisasi/akademik) akan memberikan hasil yang seimbang dengan apa yang sudah dikerjakan.

 

Faldo memaknai amanah itu menuntut dan menuntun. Amanah sebagai pemimpin menuntut dan menuntun seorang pemimpin berlaku sebaik mungkin dan menjadi yang terdepan. Bicara soal organisasi mahasiswa atau di lembaga ekstra, orang-orang yang aktif biasanya punya privillage masuk ke pemerintahan. Sementara orang yang condong fokus pada akademik dan pintar bisanya jadi dosen. Sekarang yang dicari itu kualitas karena kita ketika lulus tidak lagi bisa memperkirakan sasaran karir yang jelas dan pasti. Kita akan bertarung di pasar bebas, semua menjadi tergantung pada kepentingan pemodal. Ditambah lagi pola setelah lulus harus ditemukan sendiri dan bisa jadi berbeda dengan apa yang dilakukan sebelumnya. Kalau kita bisa melihat kategorisasinya kita bisa menebak ke depannya seperti apa? Leader yang seperti apa yang akan mucul? Menurut Faldo sendiri, di masa depan leader yang muncul adalah leader yang condong ke digital.

 

Anak muda punya kelebihan dalam hal community oganizer. Faldo mencontohkan keputusannya berani masuk ke dunia politik diawali dari karyanya pulangkampuang.com. Dari situ ia memiliki modal berupa basis massa dan pengabdian pada masyarakat. Formulasi gerakan anak muda hari ini random, kerja, dan impact. Formulasi gerakan anak muda hari ini bisa sangat tidak terbaca dan aneh dan yang aakan lebih dilihat adalah kerja dan impact-nya.

 

Tujuan anak muda masuk ke kekuasaan itu semestinya bukan uang. Kalau tujuan utamanya uang, tentu menjadi pengusaha saja. Ke depan dalam bekerja harus diimbangi dengan memanfaatkan teknologi. Informasi di luar sana sangat mudah didapat tapi tidak ada saluran untuk klarifikasi. Anak muda bisa menggunakan celah itu. Kedua, kenali trend mulai dari warna hingga musik anak muda sekarang. Anak muda sebaiknya banyak melakukan eksperimen, gagal berkali kali tidak masalah akan tetapi nanti yang perli di-blow up yang berhasil saja.

 

Menjadi pemimpin/ketua itu starting point, yang terpenting itu tetap bekerja. Jika dianalogikan lulus itu seperti mati, yang jadi masalah bukan matinya tapi apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kematian dan setelah mati mau ngapain.

 

Selanjutnya Faldo memberikan pandangan tentang perbandingan kerja di indonesia dan mahasiswa yang kuliah dengan beasiswa di luar negeri. Kerja di Indonesia dengan pengalaman minim setelah dikurangi dengan berbagai tuntutan dan kebutuhan hidup hasilnya ternyata sama bahkan lebih rendah dari penerima beasiswa luar negeri. Tetapi bagi mahasiswa yang mengejar beasiswa diluar negeri juga harus punya perencanaan yang terukur. Setelah lulus harus jelas dan pasti mau melakukan apa. Kalau tidak menyiapkan diri ujung-ujungnya lulusan beasiswa luar negeri sama-sama bertarung dengan lulusan S1 dalam negeri memperebutkan lapangan kerja, jadi seperti sia-sia kuliah di luar negerinya.

          

Kembali lagi ke leadership, bahwa leadership itu tentang gagasan dan argumentasi yang kuat. Seorang pemimpin butuh argumentasi yang kuat untuk membangun dan mewujudkan gagasannya. Leadership itu juga tentang learning procces, dengan berlatih siapapun bisa jadi pemimpin. Pemimpin juga harus punya mobilitas tinggi. Jadi tidak heran kalau jadi leader harus siap habis uang dan tidak punya pacar.

 

Melihat kondisi sekarang yang lebih ditonjolkan adalah skill. Banyak lulusan kampus yang kurang Sesuai di perusahaan karena skill-nya kurang. Jangan sampai orang yang aktif di organisasi mahasiswa merasa hebat padahal di luar sana kita tidak dilihat dan kalah dengan orang-orang yang aktif di komunitas. Dalam membangun sesuatu ada prosesnya dan bertahap. Misal Kitabisa untuk jadi seperti sekarang juga ada prosesnya. Banyak eksperimen dan latihan. Jangan kinerja tanpa diimbangi dengan berfikir, gunakan teknologi untuk ekspansi. Di masa depan orang tidak peduli kamu dari mana tapi apa yang sudah kamu kerjakan dan apa yang kamu buat.

 

Sesi Tanya Jawab

 

  1. Fawas (DPP 2015)

Pertanyaan: Terkait dengan komunitas dan gerakan membangun daerah sedang masif, mungkinkah ini menjadi gerakan ekstra-parlementer dan bisa menjadi indikasi degradasi partai politik?

Jawaban: Pertama bikin pulangkampuang.com saya dipanggil Gubernur, mereka bertanya-tanya ini anak-anak mau ngapain? Ya banyak asumsi bisa jadi gerakan ekstraparlementer, karena tidak ada larangan untuk jadi pemimpin di Indonesia. Leader besar berasal dari bawah. Di awal memang sudah ada indikasi ke sana. Anak-anak pulangkampuang tidak ada yang protes saya mencalonkan diri jadi walikota, karena formulasi anak muda itu unik. Community organizer bisa jadi tools yang significan di masa depan. Di pulangkampuang itu kerja sosial. Pertarungan jadi pemimpin itu masih terbuka lebar. Kuncinya biar tidak bias, maksimalkan di kerja sosial dan berusaha tidak memihak dalam politik.

Apakah ini degradasi?  Tergantung perspektif tapi banyak yang sudah melihat. Apa akan berengaruh di masa depan? Ya berpengaruh, karena dimensi kerjanya kelihatan karena basis masanya sudah dibangun. Yang dihitung adalah kerjanya, apa yangg dilakukan?  Domain terakhirnya yaitu keikhlasan.

 

  1. Pinto (MKP 2013)

Pertanyaan: Pulangkampuang ini proses basis massa, lalu bagimana cara menghadapi politik orang Minang yang sinis, skeptis dan bagaimana caranya membangun trust? Bagaimana cara membangun kredibilitas? Dan apa yang dihadapi saat ini?

Jawaban : Menghadapi orang Minang itu susah. Apalagi di Padang masih sangat feodal dan Sumbar itu menarik. Transmigrasi itu perpindahan sumberdaya, pergulatan politik dan identitas itu memang ada. Tapi intinya kerja-kerja. Yang dihadirkan itu apa yang menjadi demand di masyarakat dan pemerintah. Di masa depan itu bermain game data. Yang membuat gerakan sosial tidak sustain itu godaan uang. Saya jalan tidak sendirian, ada banyak yang mem-backup. Kalalu ingin punya trust itu utamakan konten yang bagus.

 

  1. Eric (HI 2017)

Pertanyaan: Yang mendapat amanah kadang tidak sesuai dengan nurani kita dan bagaimana cara mengatasi itu? Apakah kita harus mengalah?

Jawaban: Kalau berselisih dapat untung, kerjakan. Tetapi harus tetap rasional, kalau baik didukung kalau buruk ya protes. Yang perlu dijaga adalah rasionalitas. Tetapi pertarungan tidak harus selalu dimenangkan. Diam dan perpikir sejenak, benar tidak? Kala benar lanjutkan. Sesederhana itu.

147 views