Sumber : http://internationalpoliticaltheory.blogspot.co.id/2011/11/joseph-schumpeter-on-democracy.html

Nyaris seminggu setelah Vincent Ricardo, pengelola Official Account “Vincent Ricardo” menuliskan balasan terhadap tulisan saya (dapat dilihat disini https://timeline.line.me/post/_dSCF6lZF4Ydk2pUuhbuQZMR8QNosVfaea5TJ4Sw/1151813423204053638), saya memutuskan untuk tidak membalas poin per poin, sebagaimana yang pernah saya lakukan disini dan disini, melainkan selaligus menulis mengenai Joseph Schumpeter. Semoga pembaca dapat membaca tulisan kami berdua dan memutuskan sendiri bagaimana bijaknya memahami teori-teori ekonomi J. Schumpeter, serta relevansinya dalam kebijakan ekonomi di Indonesia.

Izinkan saya memperkenalkan Joseph Alois Schumpeter: cendekiawan, ekonom, akademisi, dan (mungkin) Bapak Pertumbuhan Ekonomi Jepang. Beliau adalah teoretikus terkemuka yang berangkat dari tradisi Historical School of Economics, yang tertuang dalam analisis-analisis beliau . Hidup dan karya pria yang tutup usia di tahun 1950 ini meliputi suatu perjalanan panjang yang dimulai di Triesch, Kekaisaran Austro-Hungaria, dan berakhir Universitas Harvard, Amerika Serikat, ditambah dengan serangkaian karya fenomenal seperti Business Cycles (1939), Capitalism, Socialisxm and Democracy (1942) dan History of Economic Analysis (1954) . Beberapa buah pemikiran J.A. Schumpeter yang terkenal (dan sudah sedikit disinggung oleh Vincent Ricardo), antara lain siklus bisnis,  kewirausahaan, ekonomika inovasi, serta teori demokrasi Schumpeterian.

Historical School of Economics

Pemikiran Schumpeter sebagian berakar pada mazhab ekonomi asal Jerman ini, yang mengedepankan suatu analisis komprehensif atas sejarah sosial, politik, dan ekonomi. Vincent Ricardo secara kasar benar dalam penggambaran Schumpeter sebagai “versi right-wing Marx”: Kedua pemikir ini sama-sama bergerak dari analisa sejarah, mengakui kapitalisme dan pasar sebagai buah cipta manusia (dan oleh karenanya bukan suatu fitur intrisik), dan menjelaskan kemajuan sebagai produk inovasi teknologi maupun institusi.

Tradisi intelektual Historical School of Economics, selain mengedepankan sejarah sebagai cara utama mempelajari ekonomi kontemporer, menerapkan ilmu statistik dalam mencata perubahan pada keseluruhan masyarakat dalam jangka panjang. Pengedepanan studi sejarah membedakan Historical School dari saingan-saingan mereka, semisal ekonom-ekonom klasik yang berpijak pada asumsi homo economicus, atau doktrin pro-pasar mazhab Austria. Walau karya-karya Schumpeter menunjukkan pengaruh teorema Walras (semisal keseimbangan umum) perbedaan ini penting nantinya dalam menafsirkan sang entrepreneur dalam skema sejarah Schumpeter.

Kita juga perlu mencatat bahwa, walaupun menggunakan pendekatan yang mirip-mirip, pandangan politik ekonom-ekonom mazhab asal Jerman ini seringkali bersebrangan. Friedrich List, perintisnya, adalah salah satu arsitek persatuan Jerman Raya via Zollverein, sementara tiga tokoh utama Historical School yang hidup semasa Perang Dunia II malah sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang mengejutkan: Werner Sombart menjadi anggota Partai Nazi, sementara Karl Polanyi, seorang sosialis tulen, menetap di Amerika Serikat. Schumpeter sendiri menjadi cendekiawan yang getol mengkritik program-program subsidi sosial yang dirintis pemerintahan F.D. Roosevelt.

Kewirausahaan dan Inovasi

Kunci dari pemikiran Schumpeter adalah pemujaannnya terhadap Unternehmergeist, atau jiwa kewirausahaan. Masyarakat adalah suatu letak yang melembam, yang berjalan seluruhnya dalam siklus yang sudah-sudah. Adalah kapitalisme, sebagai suatu fase sejarah, yang melibas dan melumat kelestarian tatanan sosial dan ekonomi. Agen perubahan adalah para wirausahawan luar biasa yang berani mendobrak dan menggilas segala yang tua, yang busuk. Bagi Schumpeter, perkembangan teknologi adalah

Menariknya, Schumpeter tidak melihat persaingan usaha dalam sendirinya sebagai bentara kemajuan. Dua produk sejenis yang berlomba mencapai tingkat harga paling rendah dan marjin keuntungan paling tinggi tidak membawa perubahan yang wow! Inovasi sejati adalah mereka yang mengubah rules of the game, atau pengaturan permainan, semisal teknologi, skema organisasi industri, pasar atau komoditas yang sama sekali baru[1] – sebuah poin yang terus menerus diangkat di karya-karya Schumpeter.

Izinkan saya sedikit merangkum beberapa kesimpulan Schumpeter di Capitalism, Socialism and Democracy:

  • Perkembangan masyarakat mencontoh dan dibentuk perkembangan teknologi[2]
  • Schumpeter mendelegasikan agensi kepada para entrepreneur sebagaimana Marx menunjuk kelas pekerja sebagai satu-satunya agen perubahan[3]
  • Masyarakat terbagi dalam kelas-kelas, yang masing-masing memiliki “kepentingan kelas”[4]
  • Dimana Marx mengakui adanya era pasar dan persaingan bebas di zaman kapitalisme, Schumpeter meyakini bahwa sedari awal kompetisi pasar dibawah kapitalisme bersifat oligopolistik atau monopolistik[5]
  • Sejalan dengan itu, kapitalisme selalu menghasilkan penyatuan unit produksi dalam perusahaan-perusahaan raksasa[6].
  • Kapitalisme adalah sistem yang unggul bukan karena persaingan bebas, melainkan karena marjin keuntungan memberikan daya bagi para entrepreneur untuk memajukan kemaslahatan masyarakat[7].
  • Pendorong inovasi adalah perusahaan-perusahaan besar yang mampu mengambil resiko dalam proses riset dan pengembangan[8].
  • Ramalan Schumpeter sendiri agak pesimis: kapitalisme akan hancur, sebagian karena institusi-institusi yang ia bangkitkan dan pertahankan[9]

Disini kita setidaknya dapat melihat bahwa Schumpeter sendiri menarik kesimpulan yang lumayan unik; berbeda dengan para cendekia kapitalisme pada zamannya, seperti Ludwig von Mises dan Friedrich Hayek, yang menentang sosialisme atas nama kebebasan, Schumpeter sendiri menganggap bahwa lokomotif laju sejarah dibebankan pada pundak para pengusaha. Kapitalisme layak dipertahankan semata karena satu-satunya alternatif yang ada akan mengurung umat manusia dalam kelembaman dan kemunduran peradaban.

Creative Destruction

Vincent Ricardo (dan Schumpeter) menggambarkan sosialisme sebagai suatu daya yang perlahan mencekik Unternehmergeist. Dimotori para intelektual, sosialisme menyalahkan borjuasi atas segala dosa dan nelangsa yang melanda umat manusia. Proses yang digambarkan Schumpter (dan sudah ditampilkans secara kasar oleh Vincent Ricardo) meliputi tumbuhnya jerat-jerat regulasi yang dimotori para intelektual di parlemen, dengan dukungan

Yang lupa (atau mungkin sengaja tidak) disebutkan Ricardo adalah kesimpulan Schumpeter mengenai bagimana kapitalisme menggali liang kuburnya sendiri; sesuatu yang sudah dijelaskan Schumpeter secara gamblang:

  • Proses kapitalisme sendiri akan merugikan baik bentuk-bentuk ekonomi pra-kapitalis maupun usaha kecil dan menengah[10]
  • “Nilai-nilai kapitalis” macam hak milik dan kontrak akan tergerus kendali terpusat yang menjadi ciri kapitalisme akhir[11]
  • Demokrasi sebagai institusi yang dirintis era kapitalisme sendiri memberikan kuasa bagi mereka yang dirugikan kapitalisme untuk menggulingkan sistem yang ada.

Alih-alih pendewaan creative destruction yang digambarkan Vincent Ricardo, saya malah melihat kebijaksanaan Schumpeter yang mengenali kapitalisme sebagai suatu keadaan yang fana, yang keberadaannya terancam oleh akibat dari dirinya sendiri. Malahan, dengan membaca Schumpeter kita dapat tiba di kesimpulan bahwa pembiaran creative destruction di era demokrasi malah akan mempercepat kehancuran kapitalisme itu sendiri. Jangan terlalu percaya ucapan saya: di dunia nyata, gaya creative destruction di pasar ojek, misalnya, cukup untuk membangkitkan tuntutan bagi pemerintah untuk memasang regulasi, sementara penggusuran rakyat dari tanah mereka (dan pelanggaran hak milik) oleh konglomerat raksasa menunjukkan sepenuhnya bagaimana kapitalisme dapat menggerus sendi-sendi sosial kita dan dirinya sendiri.

Sekali lagi kita menemukan kemiripan Schumpeter dan Marx: Keduanya doyan menyalahkan suatu strata sosial (semisal borjuasi, dan kaum intelektual) atas tragedi manusia.

Kesimpulan (?)

Di paragraf pertama, saya sekilas menyinggung peran Schumpeter dalam membimbing kebijakan ekonomi Jepang pasca Perang Dunia Kedua. Walau sempat menjabat sebagai menteri keuangan negara bagian Austria di tahun 1919, buah pemikiran Schumpeter paling kentara diwujudkan dalam susunan kebijakan ekonomi Jepang; Schumpeter dan istrinya sering diundang pemerintah Jepang zaman pendudukan sekutu untuk membantu pengaturan organisasi industri.

Saya rasa Vincent Ricardo benar soal satu hal: Schumpeter adalah tokoh “kanan” (dalam batas-batas politik di Barat, tentunya). Siklus bisnis, kewirausahaan, hingga creative destruction adalah konsep-konsep yang membenarkan dan mempertahankan status quo. Namun karya-karya Schumpeter malah memberikan wawasan mengenai cara kerja kapitalisme sesungguhnya, dan hal ini sering luput dari pemikiran para advokat pasar; dari Schumpeter, kita belajar bahwa tiada pasar yang benar-benar bebas, bahwa kapitalisme sendirinya adalah gaya yang melumat, bukan melestarikan, bahwa monopoli adalah fitur kapitalisme yang selalu ada. Beliau bukan idealis startup atau neoliberal yang yang menghamba pada mimpi homo economicus.

Sekali lagi izikan saya untuk memperkenalkan pembanding dalam membahas Schumpeter; Karl Paul Polanyi adalah rekan sesama mazhab Historical School of Economics, dan pemahamannya akan kapitalisme amat mirip dengan Schumpeter. Namun ada suatu pembeda pada teori Polanyian; bagi Karl Polanyi, regulasi, koperasi dan segala upaya manusia melindungi diri dari persaingan pasar dan kapitalisme adalah respon alamiah masyarakat terhadap creative destruction  yang mengoyak rasa kemasyarakatan. Dengan kata lain, tanpa strata intelektual (yang disalahkan Vincent Ricardo sebagai biang keladi anti-kapitalisme) sekalipun masyarakat pada umumnya akan mengambil langkah-langkah perlawanan terhadap persaingan dan keserakahan yang merugikan sesama.

Alangkah baiknya apabila seorang cendekiawan ternama seperti Vincent Ricardo mulai mendalami buku-buku yang ia baca secara khusyuk dan kaffah. Hidup dan karya seorang Joseph Alois Schumpeter terlalu berharga untuk dicomot sekenanya dalam rangka membela agenda yang tidak jelas arahnya. Anggap saja ini sebagai dialog beradab antara dua insan manusia; saya masih menunggu kata mutiara Vincent Ricardo selanjutnya!

 

 

Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013

Schumpeter, Joseph Alois. Business cycles. Vol. 1. New York: McGraw-Hill, 1939.

 

[1] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 83

[2] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 173

[3] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 134

[4] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 146

[5] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 81

[6] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 140

[7] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 82

[8] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 281

[9] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 151

[10] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 140

[11] Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. Routledge, 2013. p. 140

300 views