“Berpikir yang realistis aja ! Tulisan-mu ngga bagus – bagus amat, jangan mimpi keliling dunia sebagai penulis, itu ketinggian, nanti jatuh bikin drama nangis, minta belas kasih.”
Apakah salah memiliki impian untuk keliling dunia, apalagi tujuannya berkarya ?

Jikalau, ada perasaan khawatir bahwa dia akan gagal. Bukankah lebih enak didengar, jika diuangkapkan melalui solusi yang memotivasi mewujudkan mimpi ‘ketinggian’ tersebut?
Pernahkah kamu merasakan dampak buruk akibat kritik seseorang, atau kritik yang kamu lontarkan kepada orang lain? Mungkin beberapa dari kita, bisa menghadapi dan membalas kritik dengan karya. Tetapi ada juga yang merasa rendah diri. Lalu menjadikan diri sebagai ‘pendosa’, yang paling bersalah di dunia, hingga memutuskan berhenti mengusahakan sesuatu yang bisa jadi positive bagi hidupnya.
Sebenarnya ingin sekali hati ini mengabaikan kritik tak membangun tersebut. Tetapi, otak terus saja berpikir tentang hal itu. Sehingga kegelisahaan dan pikiran ingin melampiaskan, terus hadir, tak peduli bagaimanapun caranya, baik atau buruk sekalipun.
Rasa kesal, tersinggung, dan tak terima, terkadang juga dapat memicu seseorang yang mendapat kritik meluangkan waktu. Untuk bertengkar secara verbal, sampai mendapat pengakuaan atas pembenaran yang coba disampaikan.
Sebagian dari kita mungkin sering menghindari kritik, karena itu hal yang tak menyenangkan. Namun mengapa seringkali dengan mudah beberapa dari kita mengumbar kritik bernada negatif?
Dibalik Kritik Seseorang
Beberapa waktu, mengkritik menjadi pekerjaan yang sangat menyenangkan. Selain bisa mengungkapkan rasa kesal, kemampuan sebagai penunjuk jalan kebenaran, seolah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri (superior secara harga diri). Di sisi lain, ini era sosial media, pertengkaran antar netizen, begitu menghibur di sela kesibukan. Peluang tersebut juga bisa dimanfaatkan ‘Para Anti’ menebar kesalapahaman, demi mendulang rezeki, menghidupi diri.
Lebih jauh, Blaz Kos sebagai Executive Consultant untuk pengembangan kepribadian, menyatakan bahwa sebenarnya kritik merupakan salah satu antibodi yang dipilih seseorang, saat mengahadapi perasaan negatif yang tak bisa dikontrol. Memusatkan diri pada ketidaksempurnaan (mengkritik) orang lain, membuat alam bawah sadar mampu menenangkan rasa cemas dan gelisah, akibat pikiran yang takut disakiti dan dikecewakan. Selanjutnya, kritik juga dirasa mampu menutupi, serta menuntaskan ekspresi iri dan frustasi atas ketidakmampuan diri berdiri di level yang lebih tinggi dari orang lain. Tidak memungkiri, orang yang mengkritik juga dapat bermaksud mengekpresikan ketidaksetujuannya terhadap suatu tindakan, yang mungkin dalam lingkungan pertumbuhannya, hal itu bernilai kurang baik.
Berlatih Meningkatkan Pengendalian Diri
Supaya tindakan mengkritik dan dikritik, tidak berdampak buruk bagi kondisi mental, maka perlu bagi kita meningkatkan kemampuan mengendalikan diri. Menurut Goldfreid sebagai psikiater, kemampuan mengontrol diri, dapat membantu seseorang memahami situasi sekitar, sehingga mampu bertindak ke arah positive, dengan mengurangi pengaruh negatif (stressor) lingkungan yang tidak kondusif.
Pengalaman adalah ruang belajar terbaik, sebab di dalam pengalaman terdapat situasi dan interaksi sosial. Setiap orang akan memiliki pemahaman dan strategi yang beragam dalam menghadapi berbagai situasi. Bahkan satu peristiwa yang sama, bisa dimaknai berbeda oleh beberapa orang. Dari pembelajaran memahami bagaimana orang lain bereaksi terhadap sesuatu, kita akan lebih mampu menempatkan diri dengan tepat. Selain itu, tindakan orang lain juga mampu menjadi cermin intropeksi diri.
Selanjutnya, kemampuan menyaring hal buruk secara seimbang, hanya bisa dilakukan, jika memiliki informasi yang teruji kebenarannya. Oleh sebab itu, mencoba mendengarkan dan memahami maksud dari keseluruhan kritik dengan pikiran terbuka, sebelum bereaksi, rasanya perlu dilakukan. Setelah hal itu dicoba, jangan berhenti dengan berpikir sendiri, namun gunakan kekuatan super media sosial, untuk berdiskusi atau berinteraksi dengan orang yang berbeda. Supaya informasi itu, dapat dinilai secara objective. Kalau mau totalitas, boleh sekalian baca buku dan bertanya ke orang yang ahli di bidang, sesuai masalah.
Semua orang pasti perna membuat kesalahan, tak peduli seberapa pintar dirinya. Oleh sebab itu, berani hadapi dan mencari pengalaman sebanyak- banyaknya selagi ada waktu. kalahkan kecemasan! Spekulasi itu membunuh.

Breathe in the outside air and look around
No one can judge you
You design your own life, get up!
– Z.I.C.O (Musisi)

94 views