Oleh: Azinudin Ikram Hakim (Departemen SOsiologi – 2015)

Secangkir kopi panas selalu punya cara tersendiri untuk menjadi dingin. Dan itulah yang terjadi pada sepasang cangkir kopi panas di teras rumah Adeline. Sepasang kopi itu tampak seperti sosok yang sedang menunggu, menjelma menjadi kisah-kisah percintaan yang berakhir kenistaan dan kesengsaraan. Kebetulan saja jalanan pagi itu dipenuhi oleh rintik-rintik bekas hujan lebat, hingga sepasang kopi yang menunggu itu tak merasa terlalu kesepian. Sebab tentu saja suara gerimis itu terus menyeruak, barangkali di sela-sela percakapan mereka.

Salah satu kopi menyeletuk membuka obrolan diantara mereka, obrolan diantara sepasang kopi. “Hal yang paling menyakitkan ialah menunggu dan dilupakan. Bukankah kamu juga merasa seperti itu?”

Kopi yang lain -yang diajak berbicara- tak menimpali. Tentu saja, kopi yang ini memang pendiam. Hingga percakapan mereka tak berbalas, terhenti begitu saja. Untung saja, gerimis hujan menjadikan suasana lebih syahdu bak memberikan nyanyian dalam keheningan. Mereka kesepian, namun tak ada diam, gerimis selalu punya cara tersendiri untuk mencairkan suasana.

Kopi yang tak ditimpali tersinggung dengan tak ditanggapi percakapannya, sayangnya ia tak bisa berbuat banyak untuk marah atau hanya sekedar protes. Ia memilih menolehkan wajah ke arah langit dengan titik air yang membuncah perlahan. Kini, ia lebih memilih merenungi nasibnya, merenungi kehidupannya yang singkat. Barangkali dalam perenungannya ia mencapai titik-titik pertanyaan mengenai siapa penciptanya, siapa wanita bernama Adeline, serta siapa sosok kopi pendiam di sebelahnya. Ia bersedih sebab dirundungi hening, gerimis tak merubah banyak keheningan yang ia rasakan.

Dari dalam rumah terdengar suara Adeline bersenandung, menyanyikan lagu-lagu lama gubahan Frankie Valli, Frank Sinatra, Glenn Medeiros atau Elvis Presley. Lagu-lagu cinta namun dekat sekali dengan kegetiran. Adeline berusaha menyenangkan hatinya sendiri meski getar suara yang ia nyanyikan tampak tak bisa menutupi kesedihan yang ia rasakan. Tampaknya Adeline bernasib sama dengan sepasang kopi yang telah ia siapakan di teras rumah; menunggu dan dilupakan. Adeline berungkali tak menghiraukan takdir yang harus ia jalani itu, namun sehebat apapun ia tak menghiraukan, ia tetap saja Adeline yang pencandu kesedihan. Adeline yang menjadi lemah sebab dirundung perasaan rindu yang teramat kuat.

Adeline menyadari perasaannya yang kacau. Bukankah seseorang yang sedang menunggu selalu merasa khawatir terhadap sesuatu? Adeline tak bisa menutupi kekhawatirannya. Ia bahkan tak mengingat lagi sepasang kopi yang telah dibuatnya, yang telah disiapkannya.

 

***

“Kamu bukan pecandu kopi, Gibran?”

Adeline percaya sebuah pertemuan yang baik harus diawali dengan percakapan yang baik. Maka ia tak ragu untuk memulai percakapan perihal kopi, sesuatu yang ia cintai melebih apapun. Gibran membalas dengan senyum, tampak dari raut wajahnya, Gibran ragu menjawab.

“Saya belum pernah sekalipun meminum kopi, Adeline,” ujar Gibran sembari mengangguk, mengiyakan pertanyaan Adeline. Dengan rasa hormat, ia masih menyimpan sepucuk senyum pada raut wajahnya yang bersih.

Adeline selalu tahu bagaimana raut wajah seorang yang tak terbiasa meminum kopi. Ia secara tak sengaja melihat Gibran memperlakukan secangkir kopinya. Sebab itulah ia menghampiri Gibran, mengajaknya bercakap. Gibran adalah tipe orang yang kaku dan teramat santun untuk ukuran seorang pria. Untung saja, Adeline seorang wanita yang ramah dan dapat mencairkan suasana. Gibran tampak terhanyut oleh cerita-cerita yang dipancarkan oleh Adeline. Adeline banyak menceritakan kopi, sesuatu hobi yang ia senangi. Gibran tampak sesekali mengangguk mendengarkan Adeline, sesekali juga bibirnya mengajukan pertanyaan basa-basi.

Gibran dan Adeline secara tidak sengaja bertemu pada acara kajian musik di sebuah gedung pada pertengahan kota. Itulah pertemuan pertama mereka, juga pertama kalinya Gibran meminum kopi sebab tentu saja atas paksaan Adeline. Adeline tak hentinya menyunggingkan senyum penuh kepuasan menjadi orang pertama kali yang melihat ekspresi Gibran ketika mencicipi kopi. Pada acara musik itu Gibran dan Adeline sama-sama menjadi bintang tamu yang menampilkan keahlian mereka dalam memainkan musik. Setelah pertemuan mereka di belakang panggung, Adeline pamit untuk bersiap diri menjadi penampil berikutnya.

Ketika perlahan Adeline memainkan saxophone miliknya, Gibran seakan-akan menjadi manusia bisu, ia terkesima dengan sesekali bergumam mengikuti nada-nada yang dimainkan oleh Adeline di atas panggung. Adeline adalah salah satu pemusik yang amat berbakat serta ditunjang dengan wajahnya yang sayu namun menentramkan itu, segala yang ada pada dirinya telah menjadikannya musisi yang komplit. Gibran tak bisa menyembunyikan raut wajah kagum. Untuk pertama kali dalam hidup Gibran, ia merasakan kopi serta merasakan cinta, keduanya mendebarkan dadanya.

“Bagaimana mungkin saya mencintainya? Saya baru menemuinya sekali ini dan mendengarkan ia bermain saxophone dengan luar biasa. Jiwa saya yang kosong ini seakan bertalu-talu, berdendang mengikuti perlahan nada-nada musik yang ia mainkan. Segalanya menghanyutkan,” gumam Gibran.

Alunan musik menghanyutkan itu perlahan menerpa jiwa Gibran yang lemah, ia merasa sendiri di tengah-tengah penonton lainnya, matanya hanya tertuju pada sosok wanita pemain saxophone itu, Adeline. Datang ke acara kajian musikal, meminum kopi, dan wanita itu, tampaknya segalanya telah dirancang oleh Tuhan, disengajakan dipertemukan.

Sejak pertemuan pertama yang mengagumkan itu, Gibran dan Adeline seperti lebih kerap kali sengaja dipertemukan oleh Tuhan. Bahkan beberapa kali mereka tampil dalam satu panggung, dengan Gibran sebagai pengiring permainan saxophone Adeline. Gibran juga tak kalah berbakat dalam hal musik, ia mahir memainkan segala alat musik, maka baginya tak sulit untuk mencapai bahkan mengiringi permainan Saxophone Adeline. Bisa saja penampilan kali ini Gibran memainkan piano, lalu penampilan selanjutnya ia memegang gitar listrik atau bahkan drum. Mereka menjadi sepasang duet yang menjanjikan dalam kajian musik.

Perlahan orang-orang mengetahui juga kedekatan mereka. Selain memiliki selera musik yang cocok tampaknya hati mereka pun cocok. Teman-teman lain yang kebetulan bekerja sebagai musisi juga tampaknya membiarkan hubungan antara Gibran dan Adeline di luar pekerjaaan mereka, semuanya tampak merestui. Hubungan yang baik dan perasaan aneh diantara mereka menghasilkan musik yang mengagumkan. Gibran tak pernah bisa menutupi rasa kekagumannya pada Adeline, begitu juga sebaliknya Adeline terhadap Gibran.

Beberapa orang memperhatikan kebiasaan mereka, setelah latihan atau tampil dalam suatu panggung, mereka berdua akan tampak akur dan penuh keceriaan. Adeline tak hentinya memasang rona merekah pada wajahnya, juga tak hentinya bercerita tentang apapun yang sedang ia rasakan. Sementara Gibran juga selalu tampak menyunggingkan senyum dan sesekali menangguk. Selalu ada sepasang kopi diantara percakapan mereka, juga selalu ada cinta diantara kedua mata mereka yang bertemu.

Sampailah pada suatu malam yang megah, mereka berdua duduk bersebelahan pada atap gedung pertunjukan musik. Mereka mendongakkan kepala, memandangi langit malam yang hanyut. Adeline menyeletuk, “Percayalah Gibran, langit pada setiap malam natal selalu memancarkan kebahagiaan serta keindahan tiada tara. Dan begitu beruntungnya kini kita memandang langit malam natal bersama.”

Seketika raut wajah Gibran berubah, yang tadinya berseri-seri kini menjadi raut wajah penuh kebimbangan. Gibran seperti tak sanggup menahan beban dari ujaran yang dilontarkan Adeline. Ia memilih diam, penanggapan atas perkataan itu hanya akan membuat hatinya menjadi lebih tak tenang. Adeline melanjutkan ceritanya, tentang hal-hal yang bahagia. Namun entah, Adeline jadi merasa canggung saja semenjak bercerita tentang malam-malam natal. Sementara Gibran diam saja, ia seperti sudah lama bersahabat dengan kesepian.

Semenjak malam itu, segalanya serasa tak sama. Gibran perlahan menjauh. Sementara Adeline tak mengerti permasalahan apa yang telah ia perbuat hingga Gibran tega perlahan meninggalkannya. Keceriaan Adeline yang selama ini terpancarkan perlahan mulai menghilang, tergantikan oleh raut murung dan penyesalan. Semenjak malam itu juga, Adeline selalu merasa dirinya menjadi seperti kisah kemuramdurjaan yang dilupakan begitu saja oleh orang-orang yang sedang berbahagia. Ia masih memainkan saxophone, membahagiakan orang lain, namun pada hatinya yang terdalam ia merasa pilu. Ia telah dilupakan Gibran. Hingga tampak pada raut wajahnya yang penuh dengan kesengsaraan, tertandai oleh bekas air mata yang seringkali turun pada pipinya, tertandai oleh kedua pelopak matanya yang sembab, tertandai pada keningnya yang kering dan panas. Hanya saja ia selalu tampak berusaha menutupi kesedihannya dengan menyunggingkan senyum penuh kepalsuan. Seringkali orang-orang yang menyapanya ragu apakah Adeline baik-baik saja setelah berpisah dengan Gibran. Adeline berusaha tetap tegar.

Sementara Gibran juga tampak tak baik-baik saja. Ia dipenuhi oleh perenungan akan kehidupannya sendiri. Ia memutuskan untuk pindah kota, demi menjauhi Adeline. Namun baru beberapa bulan saja berpindah, Gibran tak bisa menahan rindunya terhadap Adeline. Ia bimbang, “Bagaimanapun wanita itu telah menjadi candu bagi saya, melebihi apapun. Wanita itu satu, hanya ia yang dapat memporak-porandakan relung jiwa saya. Tuhan, apa yang semestinya saya lakukan? Setiap kali saya melihatnya, saya terjebak dalam semu, terjebak dalam rindu, terjebak pada perasaan yang tak menentu, yang takkan terucapkan bibir ini. Renjana. Bagaimanapun saya telah terjebak Tuhan, terjebak dalam renjana ini, dalam kisah percintaan dan kenangan yang mencumbu asa. Tuhan, saya bimbang. Barangkali ia juga mencintai saya, namun bukankah kami berbeda, Tuhan?”
***

Baru kemarin malam Gibran menelpon Adeline, sekedar menanyakan kabar dan alamat rumah. Rupanya keduannya tak sanggup menahan rindu yang terlalu lama, Gibran akan mengunjungi rumah Adeline. Maka tak heran esok itu Adeline dirundung rasa cemas berlebihan namun juga rasa berdebar tak karuan. Ia menyiapkan sepasang cangkir kopi panas terlezat yang pernah ia miliki. Berharap Gibran suka dan memuji kopi buatannya.

Jalanan masih tampak basah saat Gibran tiba pagi itu. Mereka duduk bersebelahan pada bangku teras rumah Adeline. Perasaan keduanya berdebar. Gibran memulai percakapan, “Sebab adanya keraguan, kadang ada sebilah perasaan yang semestinya kita tinggalkan, Adeline.” Adeline menyipitkan matanya, berusaha mengerti. Juga berusaha menolak apa yang telah ia dengar. Gibran melanjutkan perkatannya dengan serak suara yang berat, “Semenjak kamu bercerita tentang langit, tentang tujuan diantara kehidupan yang mengerikan ini, tentang asal muasal kasih dan cinta yang mempesona darimu, saya tak pernah bisa tidur tenang. Kita berbeda, Adeline.”

Adeline menangis, menundukkan wajahnya, melirik ke arah kopi yang telah dibuatnya. Secangkir kopi panas selalu punya cara tersendiri untuk menjadi dingin.

Barangkali sepasang kopi yang telah menjadi dingin itu menjadi saksi bisu percakapan antara Gibran dan Adeline. Kopi yang sedari tadi memandangi langit kembali membuka percakapan terhadap lawan bicaranya, “Ini rahasia diantara mereka sejak wanita itu mengatakan langit pada setiap malam natal adalah indah. Sayangnya semenjak wanita itu berkata demikian, perlahan pria itu pergi. Barangkali sebab mereka sudah saling mengetahui bahwa pria itu ialah pengagum Muhammad yang taat, sementara wanita itu ialah penganut Isa yang setia.”

Akhirnya setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar, kopi lain yang sedari tadi diam itu menjawab, “Saya turut bersedih akan kisah-kisah perpisahan.”

 

Azinuddin Ikram. Pria pengagum langit ungu berkelahiran Solo 97, saat ini tengah sibuk menjadi mahasiswa sosiologi UGM, serta bagian dari jurnalistik Sintesa Fisipol UGM.

Agustus 2016.

155 views