Oleh : Arif Budi Darmawan (Mahasiswa Sosiologi FISIPOL UGM 2015)

 Radikalisme merupakan tema yang menarik untuk diperbincangkan[1], mengapa? Sebab paham ini dianggap mengancam kesatuan dan persatuan bangsa serta kemanusiaan. Radikalisme juga acapkali diasosiasikan dengan terorisme. Ahmad Syafii Maarif[2] menjelaskan bahwa radikalisme dan terorisme merupakan dua terma yang berbeda. Memang radikalisme bisa berubah menjadi terorisme, tetapi tidak selamanya begitu. Perbedaannya adalah radikalisme terkait cara pengungkapan keberagaman seseorang. Sedangkan terorisme adalah tindakan kriminal untuk mencapai tindakan politik tertentu.

Biarpun radikalisme masih jauh dari tindakan terorisme. Namun, mengapa radikalisme patut diwaspadai karena paham ini merupakan prosesi awal dari tindakan terorisme. Rizal Sukma [3] menyatakan, “Radicalism is only one step short of terrorism. Religious – driven radicalism, especially one with the tendency to resort to violence, could easily one with the tendency to resort to violence, could easily serve as the basis for recruitment”. Adanya kemungkinan bagi penganut paham radikal masuk kedalam jaringan terorisme disebabkan pemahaman mereka yang tunggal akan suatu konsep. Sehingga mudah bagi jihadis untuk mencuci otak mereka dengan terorisme,

Mereka yang mengamini paham radikal ini biasanya memiliki kecenderungan untuk memahami suatu hal secara monolitik[4]. Artinya, mereka meyakini akan tafsiran tunggal, dan mengandaikan bahwa hanya tafsir atau pendapat kelompok merekalah yang benar. Pola pikir demikian tentu tidak dapat dibawa keduania sosial, terutama dalam memahami agama. Dalam satu keyakinan atau agama saja biasanya terpecah belah kedalam beberapa denominasi, sekte dan keberagaman tafsir. Mereka yang berpandangan monolitik memiliki kecenderungan untuk menyalahkan pihak  lain atau bahkan memaksa orang lain untuk meyakini apa yang dianggapnya benar.

Lebih memprihatinkan lagi, dewasa ini fenomena radikalisasi merebak pada kalangan anak muda. Mereka yang rentan menjadi sasaran disni terlebih pada  usia 14 – 17 tahun atau setingkat SMP -SMA. Rentan usia tersebut lekat dengan masa pencarian identitas. Dalam masa pencarian ini biasanya seorang pemuda akan mendekati dan mengeksplorasi sesuatu yan tidak jauh dari dirinya. Bisa berupa minat bakat  yang tertampung di kegiatan ekstrakulikuler, kegiatan kepemimpinan di Osis atau kegiatan keagamaan dan kerohaniaan. Melalui kegiatan kerohanian inilah biasanya gerakan radikal menginfiltrasi pahamnya.

Dalam essai ini penulis  berusaha memaparkan  tentang bagaimana dominasi wacana Islam terjadi di sekolah negeri. Studi kasus terkait fenomena Islamisasi sekolah ini merujuk pada salah satu SMA Negeri favorit di Yogyakarta. Penulis berusaha mengelaborasi hasil wawancara dengan mantan siswa SMA tersebut dengan hasil penelitian terkait islamisasi  sekolah di Yogyakarta. Essai ini berusaha membuka mata kita bahwa fenomena islamisasi yang berujung pada sikap ekslusivisme tidak hanya terjadi pada dunia perpolitikan. Sekolah negeri sebagai laboratorium keberagaman pun turut terseret dalam arus ini.

Islamisasi pada Sekolah Negeri di Yogyakarta

            Salah satu sekolah negeri yang terindikasi mengaami islamisasi di Yoyakarta adalah SMA Rajawali (nama disamarkan). Latar belakang pengambalian SMA Rajawali sebagai subyek kajian terinpirasi dari wawancara penulis dengan salah satu mantan siswa sekolah tersebut. Ia menceritakan bahwa islamisasi terjadi pada sebagian besar kehidupan sekolah. Segregasi berdasarkan jenis kelamin tidak hanya terjadi di kamar mandi , mushola, dan kegiatan keagamaan, melainkan juga di kantin, kelas, aula, upacara. Dari segi pakaian, seluruh siswi muslimah diwajibkan memakai hijab.

Cerita teman penulis itu kemudian diperkuat lagi dengan beberapa tulisan ilmiah yang diterbitkan oleh Cross Religion and Cultural Studies (CRCS) UGM.  Tulisan ilmiah itu antaralain tulisan Farid Wajidi (2016) dengan judul Kaum Muda dan Pluralisme Kewargaan. Dalam tulisannya, Farid, berusaha membahas fenomena menguatnya identitas keagamaan di ruang publik  yakni Sekolah Menengah Umum. Farid memulai tulisannya dengan sebuah cerita yang diadaptasi dari surat kritik salah seorang  walimurid SMA Rajawali.  Kritikan tersebut intinya memaparkan bagaimana Rohis (seksi kerohanian Islam), salah satu organisasi agama ditingkat sekolah, yang begitu mendominasi kehidupan sekolah.

Dominasi yang dipaparkan oleh buku tersebut persis seperti yang diceritakan oleh teman penulis. Lebih lanjut tulisan tersebut memaparkan bahwa dominasi wacana Islam  dilakukan oleh Rohis dan diamini oleh segenap dewan guru. Aturan sekolah cenderung deskriminatif dan merujuk pada satu ajaran tertenu. Aturan tersebut nampak mulai dari pembatasan kebebasan berekspresi para siswi dalam acara pensi. Perempuan tidak boleh tampil sebagai vokalis, berpuisi, dan berbagai penampilan yang mengeluarkan suara.  Dalih larangan ini karena suara wanita adalah aurat dan tidak boleh diperdengarkan pada selain muhrimnya. Segregrasi antara laki-laki dan perempuan tidak hanya terjadi di Musholla atau acara keagamaan tertentu, tetapi juga di kelas bahkan di aula sekolah dipasang tirai yang membatasi antara laki-laki dan perempuan dalam acara non keagamaan.

Beberapa hal ini menunjukan gejala menguatnya pengaruh keagamaan tertentu  yang membentuk identitas ekslusif siswa[5]. Dengan mengambil prespektif ruang publik, Farid berpandangan bahwa apa yang terjadi ini merupakan suatu hal yang patut disayangkan. Sekolah umum yang ditujukan untuk mengakomodir perbedaan pada kenyataannya justru memperkuat perbedaan. Terutama ketika penguatan identitas ekslusif mendominasi sekolah umum dan meliyankan identitas lainnya.  Wacana islamisasi yang marak terjadi di sekolah umum (negeri) tentu bertujuan untuk merekrut anak muda.

Tulisan kedua oleh Team CRCS UGM dan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta [6] . Dalam risetnya yang berjudul  Politik Ruangg Publik Sekolah memaparkan bahwa tengah terjadi islamisasi di tiga SMUN di Yogyakarta. Salah satu SMA yang tercantum adalah SMA Rajawali. Ketiga SMA itu memiliki kecenderungan radikal dalam memahami keagamaan yang selama ini dianut. Lagi-lagi Rohis menjadi peran sentral dalam islamisasi di sekolah.

Akar Islamisasi Sekolah

Tulisan Muhammad Najib Azca[7] berjudul Yang Muda, Yang Radikal : Refleksi Sosiologis Terhafap Fenomena Radikalisme Kaum Muda Muslim di Indonesia Pasca Orde Baru menjelaskan penguatan identitas pasca orde baru dapat dilihat sebagai aksi identitas. Aksi ini ditujugan sebagai upaya untuk menjawab krisis identitas yang dialami oleh kaum muda baik dalam tataran personal maupun kolektif.  Anak muda sebagai agensi memiliki kecenderungan untuk terlebih dalam gerakan radikal, diibandingkan dengan orangtua

Sekolah sebagai “wadahnya” anak muda menjadi sasaran gerakan radikal. Terutama sekolah negeri yang tidak berafiliasi dengan aliran atau kepercayaan tertentu.  Sekolah Negeri kerapkali dicap sebagai sekolah “sekuler” karena memang sekolah tipikal ini diperuntukkan untuk publik .Artinya, siapapun dan dengan latar belakang apapun dapat tertampung di sekolah negeri. Sifat sekolah yang publik dan terbuka inilah yang menyebabkan mudahnya berbagai paham masuk tanpa seleksi yang cukup ketat.   Rohis atau Rohaniawan Islam adalah gerbang utama bagi penyebaran paham ini.

Akar fenomena islamisasi sekolah ini bermula semenjak  penerapan kebijakan NKK/BKK oleh pemerintahan orde baru. Pada tahun 1978 pemerintah membatasi ruang gerak mahasiswa terutama dala hal berpolitik. Alhasil, Masjid kampus menjadi alternatif ruang baru bagi mahasiswa. Setelah berhasil mengembangkan dakwah kampus, sebagian aktivis masjid memperlebar dakwanya ke sekolah dan sebagian aktivis dakwah mahasiswa ini mewakafkan diri mereka sebagai murabbi atau mentor keagamaan[8].Aktivitas dakwah di sekolah ini kelak menjadi cikal bakal berdirnya Rohis atau Rohanawiawan Islam.

Bukankah suatu hal yang baik apabila rohis dihidupkan dan semangat agama kembali diteggakkan? Tentu hal ini tidak menjadi suatu persoalan apabila paham yang masuk sesuai dengan kultur kita sebagai bangsa Indonesia. Paham Islam yang menginfiltrasi gerakan Rohis biasanya adalah paham import yang berasal dari Timur Tengah. Berbeda dengan Indonesia, kultur gerakan Islam Timur Tengah memiliki kecenderunan untuk memahami  Islam secara formal. Diantara gerakan Islam timur tengah tersebut antara lain Ikhwan al Muslimin, Al Qaeda, Hizbut Tahrir, dan para jihadis Afghanistan. Sedangkan Islam Indonesia lebih bercorak  substansi, bukan pada formalisasi ajaran[9].

Persoalan selanjutnya adalah apa yang terjadi jika paham  ekslusif ini berusaha mendominasi ruang publik dalam hal ini sekolahnegeri? Tentu menjadi persoalan  yang amat pelik dimana sekolah negeri yang memang sengaja didirikan untuk menjaga kebhinnekaan Indonesia nyatanya malah menyuburkan diskriminasi. Tidak hanya itu dominasi yang dilakukan oleh paham radikal ini juga akan berpengaruh terhadap terenggutnya ekspresi identitas lain[10]. Peran sekolah sebagai institusi yang membebaskan seseorang dari kebodohan justru berperan dalam pengindoktrinasian.

Refleksi Pribadi

Sebagai negara yang multikultur  terdiri atas beragam keyakinan, suku, dan ras sudah semestinya sekolah negeri mampu memberikan contoh penerapan peraktik keberagaman. Sekolah memiliki peran sentral dalam membentuk karakter generasi Indonesia. Pemuda, menjadi harapan penerus tempuk kebhinnekaan serta persatuan Indonesia. Sebagai pemangku kebijakan pemerintah harus bertindak tegas dalam mengawasi gerak kaum radikalis, terutama gerakan yang menyusup ke sekolah melalui perantara Rohis. Sekolah harus difungsikan sebagaimana fungsinya sebagai laboratorium keberagaman.

 

 


[1]Ahmad Fauzi Fanani, Menghalau Radikalisasi Kaum Muda : Gagasan dan Aks,  Jakarta, 20014, hal 4

[2]Ibid, halaman 5

[3]Rizal Sukma, War on Terror : Islam and the Imperative of Democracy, Jakarta, 2004 hal 91

[4]Muhammad Najib Azcam, Menghalau Radikalisasi Kaum Muda: Gagasan dan Aksi , 20014,  hal 6

[5]Farif Wajidi, Pluralisme Kewargaan Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia, Yogyakarta, 2016, hal 92

[6]Team CRCS, Pollitik Ruang Publik Sekolah, Negosiasi dan Resistemsi. Yogyakarta, 2011

[7]Muhammad Najib Azca, Yang Muda Yang Radikal; Refleksi SOsiologis Terhadap Fenomena Radikalisme Kaum Muda Muslim di Indonesia Pasca Orde Baru, Jakarta, 2014 hal 14

[8]Farif Wajidi, Pluralisme Kewargaan Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia, Yogyakarta, 2016 hal 96

[9]Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita : Agama Masyarakat Negara Demokrasi (Jakarta: Agustus 2006)

[10]Farif Wajidi, Pluralisme Kewargaan Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia, Yogyakarta, 2016, hal 92

 

Daftar Pustaka

Azca, Muhammad Najib. 2013. Maarif Institute. Menghalau Radikalisasi Kaum Muda : Gagasan dan Aksi. Jakarta;  Maarif Institute.

Fanani, Ahmad Fauzi. 2013. Menghalau Radikalisasi Kaum Muda : Gagasan dan Aksi. Jakarta: Maarif Institute.

Salim, e. a. (2011). Politik Ruang Publik Sekolah, Negosiasi dan Resistensi di SMUN di Yogyakarta. Yogyakarta: CRCS.

Sukma, Rizal. 2004. War on Terrorism: Islam and the Imperatice of Democracy. Berlin: Springer.

Wahid, Abdurrahman. 2006. Islamku Islam Anda dan Islam Kita : Agama dan Masyarakat Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute

Wajidi, Farid. 2015. Pluralisme Kewargaan Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia. Yogyakarta: CRCS

264 views