Sumber : www.islambergerak.com

Oleh Dendy Raditya Atmosuwito (Mahasiswa Departemen Manajemen Kebijakan Publik FISIPOL UGM 2014)

 

Islam diturunkan ke muka bumi ini sebagai solusi. Sebagai muslim sudah tentu kita percaya hal tersebut. Tetapi persoalan di muka bumi pada setiap zaman selalu berbeda-beda maka secara logis di tiap-tiap zaman diperlukan pembaharuan pemikiran Islam untuk mengkontekstualisasikan ajaran Islam agar dapat menajwab tantangan-tantangan di zaman tersebut. Berkaitan dengan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia, ada satu pertanyaan menarik yang terbersit di pikiran penulis. Pasca ide-ide KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari, Tjokroaminoto, Agus Salim, KH Wahid Hasyim, KH Imam Zarkasy, Muhammad Natsir, Hamka, Nurcholis Majid, Ahmad Wahib, Kuntowijoyo, Muhammad Imaduddin Abdulrahim, Emha Ainun Najib, Gus Dur, Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, dan tokoh-tokoh lainnya, di era reformasi ini ide-ide pembaruan pemikiran Islam seolah berhenti.

 

Pasca Reformasi dunia pemikiran Islam di Indonesia alih-alih melahirkan buku-buku pembaruan pemikiran Islam malah melahirkan buku-buku seperti “cepat kaya ala Rasullah”, “halalakan atau tinggalkan”, “udah putusin aja” dll?. Pertanyaan berikutnya pun muncul. Apakah jangan-jangan buku-buku yang mengajak menikah muda dan cepat kaya duniawi itu tadi adalah “pembaruan” di era ini karena tiap zaman punya konteksnya sendiri dan tiap “pembaruan” di tiap zaman berangkat dari masalah yang berbeda-beda di tiap zaman tersebut?

 

Nyatanya, masalah yang harus dipikirkan para pemikir Islam Indonesia di zaman sekarang bukan hanya soal menikah muda atau cepat kaya. Ada bahkan banyak masalah lain di berbagai bidang seperti ketimpangan ekonomi, intoleransi, literasi umat yang rendah, konflik politik, dll. Gagasan menarik datang dari cendekiawan muda NU, Muhammad Al-Fayyadl. Menurut Al-Fayyadl keberislaman kita selama ini adalah keberislaman yang borjuistik. Yang melanggengkan egoisme dan hasrat pribadi, menipiskan solidaritas, memupuk kebanggaan atas kemewahan materiil di atas ketimpangan sosial. Untuk melawan itu Al Fayyadl menawarkan gagasan keberislaman yang progresif.

 

Al Fayyadl menjelaskan lebih lanjut bahwa sebagai suatu bentuk keberagamaan, Islam Progresif memandang keimanan dan keislaman tak cukup hanya diyakini dan diamalkan, tetapi juga harus didorong untuk mengubah kondisi keumatan yang objektif, yang menjadi syarat agar keimanan dan keislaman dapat ditegakkan dengan sempurna. Al Fayyadl mencontohkan seorang Muslim yang progresif tidak puas dengan shalat lima waktu dan berzakat, sampai menyadari bahwa shalat dan zakatnya membawa dampak signifikan bagi perbaikan hidup orang-orang di sekelilingnya.

 

Sebagai mahasiswa muslim gagasan Al Fayyadl mengenai keberislaman yang progresif itu pun seharusnya bisa kita gunakan untuk menghadapi berbagai permasalahan di bidang yang sekarang kita geluti yaitu di bidang dunia kemahasiswaan dan pendidikan tinggi. Ada banyak permasalahan dalam bidang ini seperti masalah biaya pendidikan (Uang Kuliah Tunggal), kebebasan akademik, kebijakan kampus yang elitis dan tidak melibatkan Mahasiswa serta warga kampus lain, Majelis Wali Amanat unsur mahasiswa dan kelembagaan organisasi mahasiswa yang dianggap tidak representatif, dan masalah lainnya. Mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam berbagi organisasi Islam seperti HMI, KAMMI, PMII, IMM, KMNU, Lembaga Dakwah Kampus, dan lainnya perlu memikirkan masalah-masalah tersebut. Keberislaman yang progresif perlu segera dimanifestasikan di dunia kemahasiswaan dan pendidikan tinggi.

146 views