Latihan Kader I HMI memiliki tujuan memberikan ideologisasi organisasi dan pembentukan pola pikir serta perilaku kader. Pada setiap Latihan Kader I, HMI Komisariat FISIPOL UGM berusaha manghadirkan wacana pemikiran yang kritis sekaligus pembacaan terhadap problem sosial kontemporer melalui materi temanya. Kali ini Latihan Kader I HMI Komisariat FISIPOL UGM mengusung tema “Islam Progresif & Dunia Kemahasiswaan Kita”. Tema ini diarahkan untuk menjelaskan pertama, bagaimana gerakan mahasiswa Islam hari ini perlu berusaha menghadirkan pembaruan pemikiran. Kedua, bagaimana Islam Progresif sebagai wacana pembaruan pemikiran Islam mampu dihadirkan di tengah dunia kemahasiswaan dan membedah persoalan-persoalan yang dihadapinya. Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar dan memberi gambaran awal mengenai materi yang akan disampaikan tersebut. Harapannya ide yang digagas dalam perkaderan HMI Komisariat FISIPOL UGM dapat mengisi ruang publik dan bergulir untuk didiskusikan bersama.

Tema yang diusung berangkat dari salah satu masalah gerakan mahasiswa Islam hari ini yaitu berhenti melahirkan ide-ide pembaruan pemikiran Islam. Masalah ini juga berlaku pada HMI. Generasi HMI zaman ini sudah semestinya mulai melampaui topik pemikiran yang dilahirkan oleh nama-nama besar yang selalu diulang dalam setiap diskusinya. Kader-kader HMI perlu memikirkan apakah diskursus keislaman HMI hanya berhenti pada konsep seperti “keislaman, kemodernan dan keindonesiaan” saja? Atau sebenarnya kondisi hari ini memerlukan gagasan yang melampaui itu? Kita sesekali perlu mengajukan kritik, jangan-jangan bahasan pemikiran HMI sebenarnya adalah bahasan yang elitis, yang kehilangan relevansinya pada kondisi-kondisi di mana masyarakat berhadapan langsung dengan problem kehidupan. Kader HMI semestinya perlu berefleksi dan membangun komitmen untuk melampaui pemikiran-pemikiran tadi dengan pembaruan yang mampu melahirkan keberpihakan pada persoalan riil masyarakat.

Pada tiga tahun kepengurusan terakhir, HMI Komisariat FISIPOL UGM berusaha mewacanakan pemikiran “Islam Progresif” dalam diskusi, tulisan dan sikap organisasinya. Usaha tersebut tidak lain dilakukan sebagai ikhtiar menjaga nafas intelektual dan melibatkan diri dalam diskursus pembaruan pemikiran Islam. Lantas pertanyaan selanjutnya adalah mengapa pembaruan pemikiran Islam perlu dilakukan? Mengapa kita perlu terlibat? Dan mengapa pemikiran “Islam Progresif” relevan? Satu persatu pertanyaan tadi akan dijawab singkat dalam pengantar ini.

Menjawab pertanyaan pertama, sebagai umat Islam kita tentu meyakini bahwa Islam diturunkan ke muka bumi sebagai solusi bagi permasalahan umat manusia. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa permasalahan di muka bumi setiap zaman selalu berubah. Maka dari itu kita membutuhkan perangkat pemikiran agar nilai-nilai universal Islam mampu dioperasionalkan untuk menjawab berbagai persoalan zaman.

Selain itu, alasan yang lebih sederhana tetapi mendasar, sebenarnya usaha memikirkan agar Islam tetap kontekstual adalah bagian dari tugas kita untuk belajar (tholabul ‘ilmi). Bagaimana kita mampu menggunakan akal dan ilmu yang kita miliki untuk membaca dan menganalisa (iqra’) berbagai fenomena serta persoalan hidup yang terhampar di muka bumi (kalamullah). Dan kemudian mengupayakan penyelesaian, perbaikan ataupun perubahan (amal).

 

Islam Progresif

Islam Progresif menjadi relevan untuk diwacanakan di tengah krisis pemikiran Islam hari ini, termasuk yang dialami gerakan mahasiswa. Liberalisme, Moderatisme dan Fundamentalisme yang memengaruhi wacana pemikiran Islam di Indonesia dianggap tidak memadai dalam memecahkan krisis sosial, ekonomi dan politik hari ini, bahkan ketiga pemikiran tadi bagian dari krisis itu sendiri[1]. Muhammad Al Fayyadl mengistilahkan Islam Progresif sebagai negasi atas liberalisme Islam dan mencoba mendefinisikannya sebagai Islam berorientasi pembebasan yang sumbernya digali dari persilangan antara ajaran Islam, kearifan lokal, dan kritik sosial[2]. Islam Progresif muncul sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasan terhadap gerakan Islam Liberal yang lebih menekankan pada kitik-kritik internal terhadap pandangan dan perilaku umat Islam yang tidak atau kurang sesuai dengan nilai-nilai humanis. Sementara itu, kiritik terhadap modernitas, kolonialisme dan imprialisme justru tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari gerakan Islam Liberal.[3]

Gagasan-gagasan teologi pembebasan seperti Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Ziaul Haque, dan tokoh-tokoh lainnya menjadi salah satu tumpuan Islam Progresif. Kesadaran teologis dalam Islam yang menekankan pentingnya manusia dalam perjuangannya untuk merenungkan bagaimana proses-proses sejarah yang berlangsung membentuk kompleksitas relasi-relasi sosial yang membangun kondisi bagi kehidupannya, maupun membatasi dalam realitas eksploitatif.[4] Kesadaran ini memberi tekanan akan pentingnya memperjuangkan keadilan sosial menjadi proyek pembebasan kaum Mustadh’afin[5] dan mempersatukan semua elemen masyarakat untuk melawan penindasan.

Islam progresif juga lahir sebagai jawaban atas krisis keberislaman hari ini, di mana agama direduksi sebatas pada ritual yang sifatnya mental-individual. Menurut Al-Fayyadl keberislaman kita selama ini adalah keberislaman yang borjuistik. Yang melanggengkan egoisme dan hasrat pribadi, menipiskan solidaritas, memupuk kebanggaan atas kemewahan materiil di atas ketimpangan sosial. Untuk melawan itu dibutuhkan gagasan keberislaman yang progresif. Praktek keberislaman yang tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah semata, tetapi juga memberi kepedulian pada hubungan manusia dengan manusia beserta alam.

 

Tantangan Dunia Kemahasiswaan Kita

Selain absen dalam diskursus pemikiran, gerakan mahasiswa pasca reformasi, bisa dibilang–tanpa bermaksud merendahkan- hanya menghasilkan tidak lebih dari konflik-konflik akibat gesekan kepentingan, utamanya terkait dengan eksistensi kader-kader dari gerakan-gerakan tersebut dalam kontestasi memperebutkan jabatan-jabatan di organisasi intra kampus. Seolah-olah kedudukan lebih penting dari kebermanfaatan dan eksistensi lebih penting dari kontribusi. Orientasi gerakan mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang semestinya mampu menghasilkan sumbangan pemikiran bagi persoalan masyarakat, bergeser menjadi kelompok-kelompok yang oportunis. Selain pergeseran orientasi tersebut, dunia kemahasiswaan juga dijerat oleh problem lain yaitu liberalisasi dan komersialisasi pendidikan yang juga turut memengaruhi bagaimana orientasi mahasiswa hari ini terbentuk.

Maka untuk menyambung pembahasan sebelumnya, salah satu tantangan gerakan mahasiswa hari ini adalah menghadirkan gagasan yang mampu mempertegas posisi dan perannya bagi gerakan mahasiswa itu sendiri dan juga bagi masyarakat.  Pada titik ini HMI Komisariat FISIPOL UGM menganggap gagasan Islam Progresif relevan dihadirkan untuk melihat bagaimana salah satu arus pembaruan pemikiran Islam ini mampu membedah persoalan yang dihadapi oleh dunia kemahasiswaan. Semoga upaya menghadirkan wacana pemikiran ini menjadi proses pembentukan pola pikir kader-kader baru HMI Komisariat FISIPOL UGM yang lebih kritis dan mampu menyikapi persoalan di sekitarnya. Lebih dalam lagi proses tersebut diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar menunaikan tugas manusia sepanjang hayatnya di  dunia yang  oleh Nurcholish Madjid disimpulkan sehingga tampak sederhana: beriman, berilmu, dan beramal.

 

Yogyakarta, 10 Januari 2018

Steering Committee Latihan Kader I (Basic Training)

HMI Komisariat FISIPOL UGM Cabang Bulaksumur Sleman

 

Referensi

 [1] Al-Fayyadl, Muhammad. “Mengapa Islam Progresif”. Diakses melalui http://islambergerak.com/2016/07/mengapa-islam-progresif/ pada 8 Januari 2018

[2] Ibid.

[3] Omid Safi “What is Progressive Islam,” dalam The International Institute for the Study of Islam in

the Modern World (ISIM) News Letter, No. 13, Desember 2003:1

[4] Pribadi, Airlangga, “Mendaras Islam Progresif Melampaui Islam Liberal” dalam https://indoprogress.com/2011/05/mendaras-islam-progresif-melampaui-islam-liberal/ (diakses pada 8 Januari 2018)

[5] Murtadho, Roy, “Meninjau Mustadhafin dan Ploretariat dalam Perbincangan Islam Hari Ini” dalam https://indoprogress.com/2017/03/meninjau-mustadhafin-dan-proletariat-dalam-perbincangan-islam-hari-ini/ (diakses pada 8 Januari 2018)

74 views