Oleh: Ramadhanti Firmaningsih

Prolog: Diskusi dengan Hati Nurani

Peristiwa, yang sangat baik atau amat buruk sekalipun, perlu kiranya dirayakan atau setidaknya diberi tanda. Agar manusia terpanggil nuraninya untuk bersyukur, untuk belajar dan tidak jatuh-jatuh lagi di waktu mendatang; meski niscaya. Seperti halnya hari ini, 21 September, sejarah mencatat bahwa pada tanggal yang sama beberapa tahun silam tepatnya pada tahun 1982 Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa mendedikasikan sebuah hari yang kini kita peringati sebagai hari perdamaian. Hari ini sengaja ditetapkan dengan nomenklatur hari perdamaian dunia, bukan karena kondisi dunia telah benar-benar damai, sepertiya begitu.

Menarik lebih jauh, 1982, konteks dimana sejarah ini lahir. Sekjen PBB membuka hari perdamaian dengan membunyikan lonceng; tediri dari kumpulan koin yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh benua (kecuali Afrika). Hadiah yang diberikan oleh Asosiasi PBB dari Jepang sebagai suatu pengingat atas korban manusia akibat peperangan; pada salah satu sisinya tertulis, “Long live absolute world peace”. Yang berarti, ada doa terselip semoga dunia terus dilimpahi kedamaian. Lalu, sejauh mana sebenarnya kedamaian sudah diupayakan? Atau paling tidak didiskusikan dengan nurani kita masing-masing?

Bagian Satu: Cita-Cita Perdamaian

Harus dipertegas sekali lagi, hari ini bukan peringatan yang lahir sebab dunia sudah merdeka dari seluruh angkara ataupun setiap manusia hidup sejahtera. Hari ini lahir atas keprihatinan tentang darah manusia yang murah tumpah dimana-mana. Kita bisa lihat Suriah, Palestina, atau bahkan di Indonesia sendiri; bahwa perebutan kuasa atas sumber daya, sentimen yag bersifat primordial, masih menjadi alasan klasik yang mendasari orang-orang kemudian menumpahkan darah orang yang lain.

Substansi yang harus kita rawat dari hari perdamaian adalah semangat memanusiakan sekeliling kita, semangat menjaga kehidupan manusia lain, semangat mendefinisikan damai dengan perspektif yang sangat luas. Jangan mengerdilkan hari ini sebagai hari yang terus diperingati sebab beberapa orang telah merdeka lahir batinnya lalu berhenti membawa perdamaian sebagai cita-cita; menganggap bahwa kita sudah sampai pada titik itu: perdamaian.

Bagian Dua: di Tangan Mahasiswa

Mempertanyakan letak mahasiswa dalam berbagai isu strategis adalah pertanyaan strategis, termasuk bertanya: “Lalu peran mahasiswa, akan sejauh apa?”.
Melihat kondisi dunia kita hari ini, perdamaian yang utuh adalah tempat yang jauh. Maka kita, setidaknya, jika tidak bisa merengkuh seluruhnya, harus mengupayakan sebisanya. Kita bisa menempuh jalur diplomasi dalam lingkup paling kecil: tidak menyebarkan kebencian, bertindak toleran, atau setidaknya memberikan ruang bagi orang-orag yang berbeda haluan untuk saling berdialog, dan bukan saling membunuh.

Mahasiswa perlu merefleksi, sekali lagi, atau barang berulang kali: sampai mana kita sudah bersuara untuk perdamaian, sebanyak apa kita bertindak untuk memperjuangkan hak-hak juga mencegah perang. Barangkali harus diingat-ingat lagi, jangan-jangan kita bagian dari sumbu yang membakar amarah massa? Jangan-jangan kajian dan advokasi kita yang komprehensif dan penuh data, kita salah gunakan. Kita pakai untuk provokasi dan mendidik orang-orang untuk saling benci. Utuk itu hari perdamaian, seperti hari-hari yang lain, adalah hari untuk berefleksi.

Epilog:
Selamat Hari Perdamaian Dunia, penghuni bumi.

“It isn’t enough to talk about peace. One must believe in it. And it isn’t enough to believe in it. One must work at it.” – Eleanor Roosevelt

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Perdamaian_Internasional
https://www.dw.com/id/konflik-terburuk-di-dunia/g-17468982
https://www.telegraph.co.uk/news/0/world-peace-day-17-inspirational-quotes-about-peace/

51 views