Oleh : Novia Nurist Naini (Mahasiswa Dept. PSdK 2014)

“Dan, menjadi wajiblah kita tahu akan maknanya, supaya sesuai bacaan mulut kita dengan arti yang terkandung dalam hati” (Prof. Dr. HAMKA)

Akhirnya menulis tentang ini juga. Sejujurnya saya tidak pede bercuap tentang Alquran, agama, atau apapun di esai, karena belum pantas. Belum tau ilmunya. Bukan siapa-siapa. Dosa banyak. Dibilang saleha juga kurang.

(Bahkan teman-teman saya di luar tidak percaya kalau saya anak RK)

Tapi akhir-akhir ini ada kejadian menggepok-nggepok datang pada saya. Daripada saya mencatat di kepala dan lupa, ya sudah tumpahkan saja.

Anda saya bukakan pintu lebar-lebar untuk mengkritik saya dari tulisan ini. Syukur-syukur dari komentar Anda kita bisa saling berbagi wawasan.

**

“Ente itu nggak berkarakter!”

Suatu hari di bulan Maret 2017, saya dievaluasi sama Bang Bachtiar, direktur Rumah Kepemimpinan. Evaluasi beliau terkenal serem. Tapi saya bukan bagian dari yang nangis. Hehe. Air mata saya sudah abis Bang. Satu hal yang saya garisbawahi dari evaluasi semester 1 di asrama adalah empat kata di atas.

Demi apa gue nggak berkarakter.

Hari selepas evaluasi sebetulnya biasa saja. Tapi hari berikutnya godam. Pilu. Saya banyak diam. Memikirkan karakter. Arti karakter. Membenarkan dan menyalahkan diri sendiri. Kepala berkecamuk. Bicara pun rintih seperti orang sariawan.

Buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi nggak punya karakter. Buat apa kepo dalem-dalem soal Artificial Intelligence tapi Alquran Intelligence-mu nol. Buat apa salat jempalikan tapi gatau makna dan filosofi salat. Buat apa tiap hari ODOJ tapi gapaham apa arti yang kamu baca. Buat apa Ris, buat apa?

Jadi apa sih arti salat tiap hari. Apa arti baca Quran. Apa coba.

Pertanyaan-pertanyaan liar itu memelatuk. Terus-menerus.      

Seminggu setelah evaluasi, saya mulai memaafkan diri sendiri. Negosiasi bersama pikiran dan hati, kalau saya akan belajar punya karakter. Saya surati Bang Bach dengan janji membaca terjemah Alquran dan tafsirnya.

3 Maret 2017, saya pergi ke Ngayogbook. Saya beli buku termahal yang pernah saya beli (duit utang), Tafsir Al Azhar karya Prof. Dr. Haji Abdul Malik bin Dr. Syekh Haji Abdul Karim Amrullah alias Buya Hamka. Tafsir ini saya pilih karena bagi saya kece.

Saat membuka sekejap Tafsir Jalalain, Ibnu Katsir, Al Misbah, bahasanya terlihat berat. Saya tidak ingin membaca tafsir seperti baca teori sosial yang bikin leher terus tegak dan bikin ngantuk. Saya butuh sisi playful.

Sampul Tafsir Al Azhar ini captionnya seperti berikut :

“diperkaya dengan pendekatan sejarah, sosiologi, tasawuf, ilmu kalam, sastra dan psikologi”

Saya buka-buka isinya Bahasa Melayu-Padang, dan banyak sejarah Indonesia-nya. Tanpa pikir panjang, gaspol kasir.

Pulang, lalu saya tuliskan di halaman pertama

“untuk yang tercinta, diriku sendiri dalam upaya mencari tauhid dan tidak buta Alquran (Resolusi 2017)”

 

            Alquran diciptakan untuk berpikir

“Dan telah Kami turunkan kepada engkau peringatan, supaya engkau jelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka supaya mereka semuanya berpikir” (QS. An Nahl : 44)

Mulanya, saya orang yang tersugesti untuk menjadi manusia yang berpikir rasional seperti Sherlock Holmes, sedikit mengambil keputusan berdasarkan perasaan dan memilih logika. Karena centiment is chemical defect found in the losing side. Efeknya, kalau ada masalah lebih suka bikin kemungkinan-kemungkinan solusi daripada nangis meratap. I was robotic then, tapi sekarang udah punya hati sih haha.

            Saya suka mikir, suka sains, suka baca, suka belajar. Preferensi buat milih bacaan tentang hal-hal diatas lebih saya utamakan dong, dibanding yang lain.

            Mukadimah Tafsir Al Azhar paragraf kelima membawa pada kalimat berikut :

“Di dalam Alquran sangat banyak ayat yang menerangkan soal-soal alam, lautan dengan gelombangnya, kapal dengan pelayarannya, tumbuh-tumbuhannya, angin dan badai, awan membawa hujan, dari hal bintang-bintang dan manazilnya, dan burujnya, demikian juga keadaan matahari dan bulan. Ayat-ayat yang seperti ini jauh lebih banyak daripada ayat-ayat yan mengenai hokum dan fiqih. Sedang penulis Tafsir ini bukanlah seorang keluaran Sekolah Tinggi Pertanian, tidak ada keahlian dalam ilmu alam. Di dalam Alquran berkali-kali juga soal atom, sedang penulis bukanlah ahli atom.

Alquran mengandung segala macam ilmu Islam; tauhid, tasawuf, fiqih, sejarah, ilmu jiwa, akhlak dan ilmu alam dengan segala cabangnya. Yang hendaknya menulislah segala spesialis ilmu itu dalam vak ilmunya masing-masing mengenai tiap-tiap ayat dan keluarlah tafsir mengenai ayat tersebut. Ahli biologi menafsirkan ayat mengenai kelahiran manusia. Ketika membicarakan petir tampil pula ahli ilmu tentang itu. Ketika membicarakan lebah dan serangga, tampil ahli ilmu serangga. 

Jika ada orang yang mengatakan bahwa segala ilmu sudah cukup dalam Alquran, perkataan orang itu tidaklah benar. Yang benar adalah anjuran Alquran untuk menyelidiki segala cabang ilmu.

Bagian yang terbanyak dari Alquran ialah menyuruh manusia memperhatikan alam sekelilingnya, merenung dan memikirkannya. Menyuruh merenungkan alam, jauh lebih banyak ayatnya daripada menguraikan hal ibadah. Ditekankan seruan agar mempergunakan akal. Di dalam Alquran terdapat segala ilmu agama, yang setengah diterangkan secara langsung dan setengahnya lagi cukyp dengan isyarat saja (Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin). Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, “Barangsiapa yang ingin mengetahui ilmu orang purbakala dan ilmu orang yang datang kemudian (futurology, red), hendaklah merenungkan Alquran.” Orang-orang yang arif bijaksana, bila merenung Alquran, bukan saja akan mendapatkan ilmu agama, bahkan ilmu yang umum pun.  

            (at that time, I was like, “ganteng parah si Buya Hamka…”)

            Bagi manusia yang spesies-nya seperti saya, Tafsir ini beneran ngaruh dan nagih untuk baca terus. Saya merasa ter-upgrade. Jujur saya bosen dari kecil sampai besar belajar ngajinya itu-itu aja. Kutbah di masjid kampung isinya surga neraka mulu. Kajian di asrama saya-nya yang suka ngantuk. Melek kalau gurunya datang dari Gontor dan bicara epistemology Islam atau kajian Islam kontemporer yang biasanya ada referensi bacaannya. Tapi kalau gurunya nggak pake sitasi, yo wis keturon.

 So, learn it by reading is my way.

            Tafsir ini ditulis Buya Hamka untuk para muballigh, atau ahli dakwah untuk menghadapi bangsa yang sudah mulai cerdas, dengan habisnya buta huruf. Bangsa yang mulai mencari titik masuk akal dari sebuah agama dan sudah berani membantah ayat-ayat Alquran.

“Padahal, kalau mereka itu diberi keterangan Alquran dengan langsung, akan dapatlah lepas mereka dari dahaga jiwa. Maka, Tafsir kita ini adalah penolong bagi mereka untuk menyampaikan dakwah itu”

            So yes, it fits to you who love to think, who question things over things, who curious, who love science, who liberate your mind after reading social theories in school class. This tafsir works so good.

 

Ini cara saya membaca Tafsir Al Azhar

Tafsir ini tekstual dan kontekstual. Setiap ayatnya dijabarkan dari sisi filologi, tata Bahasa Arab, makna ayat menurut komparasi ahli-ahli tafsir, sebab turunnya ayat lengkap kondisi sosial-politik-budaya-ekonomi-sejarah-antropologi-psikologi-hubungan internasional dkk nya yang kontemporer dan tak jarang mencatut soal Indonesia. Komprehensif. Needless to say, Buya Hamka cerdasnya nggak karuan. Nggak kebayang berapa jumlah buku yang telah beliau baca pada masa itu.  

Ada banyak sekali catatan sticky note saya di kitab ini. Catatan refleksi, catatan kagum, catatan pertanyaan dan catatan pengingat. Buku itu tercipta untuk dicoret-coret, jadi jangan dibiarin putih mulus, bikin ngantuk. Saya mulai mencoreti buku setelah pinjam Pergolakan Pemikiran Islam-nya Mas Rizky Alif yang penuh coretan komentar kritik. 

The mathematics of Shirathal Mustaqim” (catatan saya ada di ayat 6 Al Fatihah)

“Menurut ilmu ukur ruang, garis lurus ialah jarak yang paling dekat antara dua titik. Makan didalam Sirathal Mustaqim, dua titik itu adalah, pertama titik kita sebagai hamba, yang kedua adalah titik Allah sebagai tuhan kita”

            “The importance of learning sastra” (ini saya tulis di tafsir Al Baqarah ayat 24).

“Dr Thaha Husain, pujangga Arab yang terkenal diberi gelar Doctor Honoris Causa oleh universitas Eropa (Spanyol, Italia, Yunani), sesudah dicapainya PhD di Sorbonne, mengatakan bahwa Bahasa Arab itu mempunyai dua macam sastra, yaitu prosa (manzhum) dan puisi (mantsur), yang ketiga adalah Alquram. Beliau tegaskan bahwa Alquran bukan prosa, bukan puisi. Alquran ialah Alquran”

            “so what is it about lalat? Right now I know, tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Semua ada maknanya dan presisi, ada ukuran. Tidak ada bidang ilmu pengetahuan yang sia-sia. Anak gue bakal gue bebasin dia belajar apapun nanti” ” (ujung ayat 26 Al Baqarah).

            “Istighfar Ris, jangan selalu mendahulukan logika!” (pangkal ayat 67 Al Baqarah tentang perintah Allah pada bangsa Israil untuk menyembelih lembu betina)

            “This is why you shouldn’t trust your teacher and keep being skeptic” . Catatan di ayat 78 Al Baqarah tentang kebenaran alkitab.

“Mereka hanya taklid kepada guru. Apa kata guru, itulah yang benar. Menyelidik dan memakai pikiran sendiri tidak sanggup, bahkan menulis dan membacapun tidak bisa, apalagi akan membaca kitab Taurat itu. Maka penuhlah mereka dengan dongeng-dongeng, khayal, pelajaran yang tidak-tidak. Dalam ketaatan, mereka pegang apa yang diajarkan oleh guru dengan tidak memakai pikiran. Dan beginilah suasana beragama pada segala zaman, apabila kebebasan berpikir telah dibendung dan ditutup oleh orang-orang yang disebut pemimpin agamanya sendiri. Syukurlah agama Islam kita tidak mempunyai kependetaan, yaitu pemuka-pemuka agama yang wajib dipatuhi (baca : paus, red).

Dan buanyak lagi.

Apakah baca Tafsir Al Azhar doang cukup?

Nggak coy. Guru nggak boleh satu, buku juga nggak boleh satu doang. Nggak boleh percaya banget dan keep being skeptical (setidaknya ini salah satu pelajaran besar saya sekolah di FISIPOL). Jadi, setelah baca 10 ayat di tafsir ini, saya biasanya ngobrol sama teman sekamar yang lebih alim atau nambah buku lain.

Saat membaca ayat tentang berpikir, saya nonton BBC Sherlock Series (Benedict Cumberbatch), nonton 7 Years in Tibet (ini ada Brad Pitt), baca Misykat juga, Pemberontak-nya Albert Camus. Hamid Zarkasyi vs Camus itu saling nusuk, dua bacaan yang amat berlawanan, yang satu ulama’ kaffah yang satu lagi ateis. 

Kemarin saat saya sampai di ayat 62-105 yang membahas tentang bangsa Israel dan agama samawi, saya ketemuan sama Yudha, karib saya anak Protestan dan pembaca abadi Romo Mangun-Frans Magniz Suseno. Saya juga nyambi baca “Misykat : Refleksi tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi”-nya Hamid Fahmi Zarkasyi dan “Dari Puncak Andalusia”-nya Tariq Suwaidan. Noted to be read, Sejarah Tuhan-nya Karel Armstrong dan Perang Salib.

 

Temenin Nurist baca dong

            Jadi setelah baca tafsir, saya kecebur deh. I start to fall in love with Alquran, with the beauty meaning and science within. Yang dulunya clueless soal agama, yang dulunya baca tapi nggak paham artinya, sekarang jadi belajar paham. Saya bacanya pelan-pelan, bawa pulpen-stabilo-sticky note. Dari Maret sampai September 2017 (minus bulan Juni-Agustus), saya sudah sampai di ayat 109 Al Baqarah juz 1, otw juz 2 cie. Karena disini, per-10 ayat penjelasannya luar biasa buanyak. Jadi biar nggak bosen, saya bacanya disambi alunan biola pagi hari, atau kalau sudah sejam baca, ganti lagunya Shawn Mendes wqwqwq.

            Yaudah gitu aja. Sekarang emang ngerasa lebih adem sih, lebih dingin kepala. Nggak sebodoh dulu. Dan yang paling penting, nggak se-robot- dulu kayak manusia abad 17 yang hidup di Renaisans Eropa. Nurist sudah bisa nangis haha, sudah punya emosi dan hati.

            Dulu kalau sakit, langsung cus dokter nyari obat (the brain works). Sekarang kalau sakit, merenung, “mungkin dosa gue banyak, jadi mesti diluruhin dosanya pake sakit” (the heart works).

            Sekarang juga lebih sering doa, “Ihdinash shiratal mustaqim” berulang-ulang. Biar terus dikasih petunjuk sama Tuhan. Makna ayat ini di Al Fatihah emang mencuci hati kayak bayklin ditumplek ke baju putih kusam.

Dijelaskan bahwa ada tingkatan orang yang tersesat menurut Sayyid Rasyid Ridha dalam Al Manar. Pertama, orang yang tidak sampai padanya dakwah (nggak dapet petunjuk sama sekali). Kedua, orang yang sampai padanya dakwah tapi udah mati duluan sebelum beriman. Ketiga, orang yang sampai padanya dakwah tetapi tidak mempergunakan akal buat berpikir dan menyelidiki dari pokoknya. Keempat, orang yang sesat dalam beramal dan memutarbalikkan hokum dari maksud yang sebenarnya. Kesesatan orang ini timbul dari kepintaran otak, tetapi batinnya kosong dari iman. Diruntuhkan agamanya, tetapi dia sendiri hancur.

Nah, tercyduq nih saya dulu ada di golongan tiga orang yang tersesat kayaknya. Udah dikasih nikmat jadi pemeluk Islam tapi nggak pernah research atau nyari tau sebetulnya apa isi Alquran.

            Well,

Setelah Tafsir Al Azhar, harusnya baca tafsir yang lain biar nggak melulu Buya Hamka. Harusnya juga ada guru yang turut mengawal. Atau, diskusi sama teman yang baca tafsir juga.  Mbok cariin Nurist guru perempuan yang ahli beginian dong, atau nggak kamu beli tafsir juga terus baca juga. Jadi kalo saya salah nangkep, ada yang turut ngingetin gituloh. Kebayang ngga sih, kalo kamu anak fisika terus baca ayat soal gelombang elektromagnetik di Al Baqarah ayat 55-56 terus kamu bisa bagi-bagi penjelasan ke orang awam, how amazing you create value to others, dude.

Jadi, tulisan ini ingin memprovokasi Anda, terutama kaum intelektual yang tiap hari mengkaji ilmu-ilmu kece di kampus. Atau buat kamu yang suka baca filsafat terus kepo parah soal ini itu. Yuk, temenin Nurist baca tafsir!

You are born to think, right? 

 

Yogyakarta, 9 Oktober 2017

Nurist

88 views