Oleh: Sri Harjanto Adi Pamungkas (Mahasiswa Manajemen Kebijakan Publik FISIPOL UGM 2016)

 

Dunia pertanian di seluruh dunia sedang menghadapi tantangan besar. Jumlah penduduk dunia saat ini lebih dari 7 miliar jiwa dengan kebutuhan serealia lebih dari 2400 juta ton. Angka ini akan terus meningkat seiring berjalannya waktu yang akan disertai pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Jumlah penduduk dunia diperkirakan akan mencapai 14 miliar jiwa dalam kurun waktu kurang dari empat dekade mendatang.

 

World Food Programme merilis peta kerawanan pangan dunia pada tahun 2014. Menariknya adalah negara – negara yang berisiko tinggi mengalami krisis pangan parah karena lebih dari 35% penduduknya kekurangan pangan, sebagian besar berada di kawasan Afrika, satu negara di Asia Tengah dan Satu Negara di Asia Tenggara dan Amerika Latin (Dewan Ketahanan Pangan, 2015). Padahal, di regional – regional tersebut jugalah harapan dunia tentang produksi pangan digantungkan.

 

Big Data kemudian mulai dilirik sebagai salah satu solusi peningkatan produktivitas dunia pertanian. Negara – negara maju memang telah mulai menggunakan teknologi semacam Artificial Intelligence maupun Big data dalam dunia pertanian. Namun, pengembangan teknologi Big Data bagi dunia pertanian di negara berkembang masih dalam tahap awal. Korporasi besar macam microsoft saat ini memang telah mulai mengembangkan penerapan teknologi Big Data bagi sektor pertanian di negara berkembang. Di indonesia sendiri telah mulai muncul perusahaan berbasis Big Data yang menggarap sektor pertanian. Misalnya CI – Agriculture dan Dattabot.

 

Secara umum Big Data pada sektor pertanian akan bermanfaat dalam memberikan data secara realtime terkait kondisi tanah, keperluan pupuk dan benih yang sesuai, penanganan hama dan penyakit, dan juga fasilitas sensor cuaca. Hal tersebut bermanfaat dalam upaya meningkatkan produktivitas petani, efisiensi penggunaan pupuk dan memberikan rekomendasi kepada petani terkait berbagai langkah yang perlu diambil dalam kondisi – kondisi tertentu. lebih jauh, sensor cuaca juga akan bermanfaat bagi petani dalam pemilihan waktu pemberian pupuk maupun penyebaran bibit dsb. Termasuk dalam mengatasi kasus tertentu misalnya padi yang ambruk terkena angin padahal telah siap panen yang sering terjadi ketika musim penghujan.

 

Mari berhenti sejenak, kita sudahi perbincangan terkait Big Data dan mulai menengok sektor pertanian kita menghadapi hadirnya Big Data. Ada beberapa permasalahan yang perlu kita ketahui bersama terlebih dahulu. Pertama, petani di Indonesia pada umumnya adalah petani dengan kapasitas kepemilikan lahan yang kecil dan tidak memiliki modal besar. Padahal, Big Data merupakan teknologi yang memerlukan modal besar untuk memperolehnya. Kedua, kemampuan petani indonesia untuk menyambut hadirnya Big Data juga menjadi sebuah problematika tersendiri. Petani kita secara umum merupakan masyarakat yang kurang melek teknologi. Sedangkan pemanfaatan Big Data memerlukan pemahaman dasar mengenai teknologi atau minimal memiliki handphone dengan spesifikasi tertentu. Ketiga, apakah gerakan revolusi teknologi di bidang pertanian ini adalah revolusi hijau jilid kedua yang hadir dengan wajah berbeda namun di belakang layarnya sama saja? Terakhir, bagaimana negara akan berperan, tentunya dalam rangka keberpihakan kepada petani?

 

Berbagai pertanyaan tersebut adalah sebuah tantangan untuk dicarikan jawabannya. jadi, berbagai pertanyaan tersebut adalah langkah untuk mencari formulasi yang paling sesuai terkait apa yang perlu dilakukan dalam menghadapi infiltrasi teknologi ke dunia pertanian ini. Bukannya menjadi sebuah langkah menutup pintu terhadap hadirnya teknologi dalam dunia pertanian kita. Teknologi selalu hadir dengan dua sisi, positif dan negatif. Pihak yang paling dapat mengambil manfaat dari hadirnya teknologi adalah yang mengertiĀ  teknologi itu sendiri. Baik apa yang ada di depan layar maupun ada yang ada di belakang layar. Big Data adalah sebuah peluang, namun peluang ini harus diperlakukan dengan cara yang tepatĀ  dan dilihat dari sisi yang komprehensif. Agar pada akhirnya peluang ini tidak berubah menjadi sebuah batu sandungan. Tulisan ini hanyalah sebuah pantikan bagi kita untuk mulai mencari jawaban dari pertanyaan – pertanyaan di atas. Masih terbuka waktu dan kesempatan guna melakukan pengkajian – pengkajian lebih lanjut.

 

(Tulisan ini sebelumnya dimuat di Akun Line National Welfare Institute (NWI) pada 21 Maret 2018)

 

Daftar Pustaka dan referensi

 

Dewan Ketahanan Pangan, 2015: Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi Tahun 2015 – 2019 diunduh dari https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjX1eaS0_fZAhXENo8KHY9UAZYQFggoMAA&url=http%3A%2F%2Fbkp.pertanian.go.id%2Fdownlot.php%3Ffile%3DKSPG_2015-2019.pdf&usg=AOvVaw3JEA-zi7Tmo9A_loPc9KeH

http://gereports.co.id/post/160179540010/hara-penerapan-big-data-untuk-pertanian-indonesia

Pertanian Kecil Bertemu Big Data

http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/big-data-untuk-meningkatkan-produktivitas-dan-efesiensi-pertanian/

160 views