Oleh: Azinudin Ikram (Mahasiswa Departemen Sosiologi 2015)

Setiap pembaca menginginkan akhir cerita yang berkelas, terlepas suatu cerita akankah berakhir bahagia atau menyedihkan. Juga Alenia, gadis cantik berambut merah itu adalah seorang pembaca yang fanatik, yang suka merenungkan setiap bacaan yang telah selesai dibacanya. Ia amat menyukai membaca dengan rasa penasaran yang selalu timbul dalam benaknya, tentang akhir pada sebuah cerita. Berbahagia atau bersedih, ia menyukai keduanya, apapun itu.

“Di dunia ini kita mengenal orang-orang hebat yang terlahirkan, dengan bakat dan kejeniusan alamiah yang mengagumkan. Orang-orang hebat itu orang-orang special, yang barangkali sengaja dilahirkan oleh Tuhan agar dunia ini menjadi lebih baik. Kamu harus percaya, Alenia. Kamu diantara orang-orang spesial itu, hamba-hamba Tuhan yang diberi kejeniusan luar biasa oleh-Nya.” Alenia mengingat kembali ucapan ayahnya ketika malam menjelang Alenia tidur. Sang Ayah mencium kening Alenia.

Semua orang yang mengenal Alenia mengakui bahwa gadis berambut merah itu memang teramat jenius untuk gadis seusianya. Alenia selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai kehidupan, kematian, dan Tuhan. Setiap kali ia bertemu dengan paman, tante, sanak saudara lainnya, pertanyaan yang ia ajukan takkan jauh-jauh dari perihal kisah-kisah kehidupan yang keji. Maka sebab ia tak pernah menemukan jawaban yang tepat bagi logika dan pikirannya, ia menenggelamkan diri pada bacaan-bacaan novel, filsafat, sejarah, dan buku-buku dewasa lainnya. Ketika gadis lain seusianya puas dengan bacaan dongeng tentang putri salju, Cinderella atau kisah-kisah Barbie, Alenia tak pernah puas dengan buku-buku mengenai kajian filsafat atau novel sastra-sastra dengan diksi yang berat.

Ketika membaca, Alenia mencari jawaban yang ia inginkan. Ketika tak menemukan, maka ia membaca buku yang lain, lagi dan lagi, terus menerus. Hingga ia merengek pada ayah ibunya untuk dibelikan buku lagi. Betapa bahagianya Alenia ketika minggu pagi ayah dan ibunya mengajak ia pergi ke perpustakaan kota. Ia hanyut dalam tumpukan buku-buku, bahkan ia menangis dan marah ketika diajak untuk pulang pada sore harinya. Atas hobinya yang aneh itu, tak ada orang-orang yang dapat mengingkari bahwa gadis kecil ini memang jenius.

Sanak saudara seringkali berdecak kagum dan memuji-muji bakat dan hobi Alenia. Namun tampaknya, Alenia sendiri tak ingin menggubris tanggapan orang-orang mengenai dirinya, ia hanya ingin membaca dan membaca, mencari dan mencari sebuah jawaban, menjawab dan menjawab sebuah misteri. Alenia selalu haus akan sebuah pertanyaan yang tak bisa ia jawab.

“Diantara jutaan manusia yang hidup ini, hanya ada ratusan yang diberi predikat kudus dan suci. Dan masa kecilmu ialah hadiah dari Bapa, dengan Illah-Nya, Bapa menjadikanmu gadis cantik yang teramat jenius, serta dengan bijaknya cara berpikirmu, barangkali kamu juga adalah orang-orang yang kudus dan suci.”

Alenia tersenyum, ia tak menggubris perkataan tantenya. Sebab tentu saja ia telah hanyut pada cerita-cerita Shakespeare yang tengah dibacanya. Dalam pikirannya tetiba ia merasa menjelma Julliet yang tengah bercinta dengan Romeo.

***

“Saya menyukai akhir pada suatu kisah. Seperti kamu telah berusaha meraih akhir pada sebuah kehidupan dan pada akhirnya menemukan suatu jawaban. Dan saya pikir Shakespeare telah memilih dan menekankan akhir yang tepat agar membuat karyanya terkenal. Barangkali Shakespeare sengaja mengakhiri kisah hidup Julliet, agar setidaknya Julliet terlihat benar-benar mencintai Romeo. Dan dalam versi Shakespeare inilah yang ia sebut dengan cinta sejati.” Kata-kata Alenia menembus telinga para lelaki yang sedari tak henti-hentinya memandangi Alenia.

Para lelaki itu, dalam batin mereka masing-masing mengakui suatu keyakinan yang sama; kecantikan luar biasa Alenia. Alenia tumbuh menjadi wanita yang teramat cantik dengan rambut merah panjang tergurai, ulasan senyum dan tatapan yang memikat. Setiap orang mendefinisikan kecantikan, namun setiap lelaki yang melihat Alenia nampaknya harus sepakat bahwa definisi cantik tak jauh dari bayangan mengenai tubuh Alenia. Alenia begitu sempurna menjadi seorang wanita, hingga tak ada satu pun lelaki yang tidak berpaling darinya. Sebab kecantikan itulah, banyak para wanita yang iri dan dengki pada Alenia. Betapa kecantikan itu benar-benar kepuasan, betapa kecantikan itu benar-benar menghanyutkan.

Ibu seringkali mengingatkan Alenia perihal kecantikan tiada tara yang ia miliki, “Kamu harus mengetahui, Alenia. Troya berperang sebab wanita, wanita yang begitu cantik memikat, melebihi kepercayaan dewa-dewa pada zaman itu. Selain diberkahi kejeniusan luar biasa, kamu juga dikaruniai kecantikan yang luar biasa oleh tuhan. Sebab itu, banyaklah berdamai pada dirimu sendiri mengenai kelebihan yang kamu miliki, bersyukurlah dan berhati-hatilah.”

Barangkali tuhan telah berlaku tak adil dengan memberikan kecantikan luar biasa yang dimiliki Alenia. “Kecantikanmu terlampaui luar biasa Alenia, tak ada seorang lelaki pun yang dapat mencoba membohongi fakta itu. Oleh kecantikanmu itulah, kamu harus mengerti kisah Helena, wanita cantik yang meluncurkan seribu kapal. Putri Zeus, keturunan kecantikan Aphrodhite dalam kisah Yunani. Kisah-kisah mengenai hancurnya Troya. Bukankah pada akhirnya Paris mati dan gagal?”

“Ya. Saya mengerti ibu. Saya bahkan telah selesai membaca segala kisah-kisah dari berbagai versi mengenai Helena, wanita paling cantik di dunia ini, juga mengenai hancurnya Troya. Menelisik permasalahan kisah itu hingga sekarang ada sesuatu yang tak berubah yakni kenyataan bahwa lelaki selalu berlebihan dalam mendeskripsikan kecantikan, mereka hanya memandang wanita cantik sebagai obyek seks, sebagai penyalur nafsu birahi mereka yang dungu!”

“Hush! Kamu tak boleh berkata begitu, Alenia. Ada juga lelaki baik-baik yang suci, bukankah para nabi, Isa, serta pastur-pastur itu merupakan para lelaki? Dan mereka adalah orang-orang yang asketis, suci, serta mengabdi pada tuhan.”

Alenia menggeleng. Alenia memiliki jalan pikiran dan perdebatannya sendiri. Baginya semua lelaki saja, semua lelaki memiliki sorot mata penuh hasrat dan berahi. Ia membantah ibunya, tak sependapat dengan argumen ibunya mengenai adanya lelaki-lelaki yang suci. Alenia selalu merasa risih terhadap tubuhnya sendiri, terhadap mata-mata lelaki yang seringkali melirik dadanya atau pantatnya, terhadap sorot penuh nafsu ingin yang ingin melampiaskan sperma padanya.

 Alenia tumbuh menjadi wanita kritis yang memikirkan pergerakan kaum perempuan. Ideologisnya mengenai feminisme tak henti-hentinya ia lontarkan dari mulutnya. Ia menuntut kesetaraan hak perempuan terhadap lelaki. Alenia juga masih membenci tatapan-tatapan para lelaki yang seringkali menyepelekannya dengan melihat rambut merahnya yang berkilauan, kedua payudaranya yang indah, pantatnya yang memikat serta matanya yang lentik dan meneduhkan. Ia semakin risih dan semakin membenci para lelaki. Dan belakangan ia menjelma menjadi pembenci Tuhan, sebab tentu saja mengapa Tuhan selalu memposisikan laki-laki teramat kuat, serta mengenai ketidakadilan Tuhan dalam menganugerahinya kecantikan tiada tara.

Akhirnya pada suatu malam, Alenia bertemu dengan seorang lelaki tampan dengan senyum dan gaya bicara yang teramat santun, bernama Purnama. “Saya menyukai ideologi yang kamu anut, Alenia. Sebagai lelaki, saya tak bisa menampik tidak ikut serta mendefinisikan kecantikan dan penjelasan ketidakadilan kaum lelaki terhadap perempuan. Saya juga membenci Tuhan tentang mengapa posisi di dunia ini, Ia sengaja melemahkan kaum perempuan. Atau barangkali bisa saja Tuhan tidak salah, hanya kaum lelaki saja yang berlebihan dan terlalu rakus terhadap kekuasaan dan hegemoni. Meski lelaki, saya berada di pihakmu, Alenia.”

Seperti terbius, Alenia dalam sepersekian detik itu juga terkesima oleh tatapan dan perkataan Purnama. Diam-diam, Alenia menjelma cinta, ia tak dapat menampik perasaan yang ia rasakan terhadap Purnama, lelaki tampan dengan bola mata kemerahan. Purnama menambahkan, “Setiap orang berhak mendefinisikan kebenaran sehingga mereka terlihat bodoh satu sama lain dari perspektif yang berbeda. Saya membenci dunia yang penuh kebenaran palsu ini. Saya membenci. Sebab kita hidup di dunia yang penuh kebodohan, Sayang.”

Pada akhirnya Purnama ikut berjuang mengenai pergerakan kaum perempuan. Purnama berdiri di belakang perjuangan Alenia. Semakin sering mereka bertemu, semakin Alenia merasa gemuruh yang tiada tara dalam dadanya, barangkali Alenia sang pembenci lelaki kini telah jatuh cinta terhadap lelaki pula? Alenia dirundung kebimbangan antara memelihara perasaan itu atau tidak. Namun tampaknya ia memilih pilihan yang salah, ia mengungkapkan rasa cintanya pada Purnama. Alenia, wanita cantik berambut merah itu mengatakannya, Purnama yang juga sebagai lelaki normal tersihir oleh kecantikan Alenia. Suatu malam, mereka bercinta dengan gejolak dan hasrat yang luar biasa, dengan nafsu yang saling menggelora. Alenia menjelma Julliet yang tengah memperkosa Romeo dengan rakus.

aku mati seribu kali, aku kembali menghitam. tidakkah kau menghampiri pinggul yang bergoyang. aku berteman dan mencintai satu lelaki, aku dan ia bungkam. tidakkah waktu yang mengakhirkan segala pertentangan. aku mati seribu kali, aku kembali kejam. tidakkah tuhan berlaku tak adil terhadap kenikmatan dan kejang. aku berteman dan mencintai satu lelaki, bukankah aku kenikmatan yang terpejam?

Sayangnya setelah mencapai puncak kenikmatan masing-masing, Purnama bertanya, “Kamu sudah tidak perawan, Alenia?”

Alenia kaget bukan main bahwa Purnama mengetahui rahasianya yang selama ini ia tutupi. Alenia mengingat kembali kejadian bertahun-tahun lalu ketika ayahnya memperkosa dirinya. Ketika awal mula ia membenci setiap lelaki. Alenia khawatir ia akan ditinggal Purnama, ia berusaha meronta dan menjawab. “Ada kisah-kisah yang sepantasnya tak usah diceritakan. Sebaiknya saya rahasiakan, biarlah hanya Tuhan dan secangkir kopi bekas malam itu yang tahu kisah sebenarnya. Saya sudah tidak suci, Purnama.”

Namun kemudian yang dilakukan Purnama benar-benar mengagetkan Alenia. Dengan ganas, Purnama memperkosa Alenia, dengan kasar, dengan gairah dan angkara meletup-letup. Alenia berusaha marah dan melepas diri namun ia tak berdaya. Barangkali Purnama merasa kalah sebagai lelaki sebab dalam mencuri keperawanan Alenia telah didahului oleh lelaki lain, Ayah Alenia sendiri. Malam itu, Alenia menangis sejadi-jadinya, ia merasa tak punya harapan untuk hidup. Setelah puas, Purnama meninggalkan Alenia seorang diri.

Esoknya, Purnama terbunuh, dalam kematian tubuhnya terdapat puluhan luka tusukan, di sekujur tubuhnya dipenuhi darah dan daging. Ia dikeroyok semalam oleh sekumpulan kelompok pria pencemburu yang mengetahui bahwa Purnama telah berhasil menikmati tubuh indah Alenia, bahwa Purnama dengan tipu muslihatnya dapat merasakan keperawanan Alenia. Lelaki itu mati mengenaskan seperti yang dialami Paris dan Troya. Sementara Alenia dirundung kesedihan dan perenungan akan hidupnya.

“Barangkali benar katamu bahwa ada kisah-kisah yang sepantasnya tak usah pernah coba untuk diceritakan. Ada baiknya kamu rahasiakan, biarlah hanya Tuhan dan secangkir kopi bekas milikmu yang tahu kisah sebenarnya. Bukankah kamu telah jatuh cinta pada sepasang mata merah milik Purnama, Alenia? Seperti kisah Julliet yang bercinta dengan Romeo? Seperti kisah Helena yang tiba-tiba begitu saja jatuh cinta pada Paris? Bukankah setiap lelaki sama saja? Sebajingan-bajingan itu!” Paragraf akhir Alenia mendengus, ia merasa belum dapat mengakhiri suatu cerita. Bukankah Alenia menyukai suatu akhir pada suatu cerita? Kali ini ia merasa berdiri di sudut persimpangan jalan dengan akhir yang masih jauh, ia ingin segera mengakhiri kisahnya, namun ia merasa terhampar dan menganggap bahwa andaikata suatu cerita tak usai. Maka ia harus bagaimana?

 

  1. Puisi diatas terinspirasi dari lagu Back to Black yang dinyanyikan oleh Amy Winehouse. Cerpen ditulis pada Oktober 2016.
182 views