Sumber: http://www.beritamoneter.com/sinta-nuriyah-ganti-nisan-makam-gus-dur/

Oleh: Averio (Hubungan Internasional 2015)

Saya selama ini mengenal sosok Abdurrahman Wahid hanya dalam dalam satu bentuk persona saja: yaitu sebagai seorang tokoh bangsa. Inipun baru sekedar “mengenal”, belum sampai tahap “memahami”. Saya kira hal ini adalah salah satu konsekuensi yang harus dari dibesarkan di lingkungan keluarga yang tidak religius dan mengenyam pendidikan sekuler sehingga saya hanya mendapat potret Gus Dur sebagai seorang “negarawan” saja, sebagai seorang “mantan presiden”, atau sebagai “tokoh pluralis” saja, tidak pernah bisa melihat Gus Dur sebagai persona yang lain. Baru ketika mulai masuk bangku perkuliahan, saya dikenalkan dengan persona Gus Dur lain yang begitu beragam dan luar biasa: yaitu, sebagai seorang pemikir Islam dan sebagai santri.

Nah, sosok Gus Dur sebagai seorang intelektual muslim yang brilian ini begitu menarik perhatian sekaligus kekaguman saya terhadap keluasan ilmu serta kedalaman pikiran yang dimilikinya. Dari begitu banyak gagasan yang dilahirkanya, saya sangat tertarik tentang pemikiran beliau terhadap relasi antara agama dengan kebudayaan. Menurut Eko Prasetyo, belum banyak intelektual Islam yang berani membicarakan hal ini secara serius[1]. Dari pembacaan saya sejauh ini, selain Gus Dur mungkin hanya nama Kuntowijoyo yang sering membahas Islam dalam konteks kebudayaan dalam tulisan-tulisannya.

Gus Irwan Masduqi menyatakan bagaimana Gus Dur—mendahului Nasir Hamid Abu Zayd—menyatakan bahwa semua agama yang muncul di dunia ini adalah pertama-tama sebagai hasil dari kebudayaan dan realitas sosial setempat dimana agama itu muncul. Mulai agama Mesir Kuno, Yahudi, Kekristenan, hingga Islam, muncul dengan tidak pernah lepas dari dialektika dengan budaya, dengan kondisi peradaban saat itu. Atau dengan kata lain, agama muncul sebagai hasil dialektika “antara teks dan realitas”. Agama itu hanya sempurna dalam prinsip. Tetapi ia tidak sempurna dalam hal mengatur semua hal yang bersifat teknis. Dengan alasan itulah mengapa Gus Dur menekankan kepada kita betapa pentingnya posisi kebudayaan dalam semua agama sebagai instrumen dakwah.

Mari kita buktikan kebenaran dari pernyataan ini lewat investigasi sejarah. Kita mulai dari Nabi Musa AS. Kita tahu bahwa Musa AS diutus untuk orang-orang Israel yang berada dibawah opresi Fir’aun. Nah, salah satu capaian peradaban terbesar rakyat Fir’aun adalah penggunaan sihir yang mumpuni. Apa yang dilakukan Tuhan terhadap Musa? Diberikanlah kekasihNya tersebut mukjizat berupa tongkat yang memiliki kemampuan untuk mengalahkan sihir para penyihir andalan Fir’aun. Maka bisa kita lihat bahwa mukjizat yang diberikan Tuhan kepada Musa adalah respon dari kebudayaan berupa tradisi sihir yang berkembang pesat pada masa itu.

Kita bisa lihat pula contoh dari Hinduisme, mengapa sapi memiliki posisi yang begitu sakral dalam kepercayaan Hindu? Seperti diterangkan oleh Pastor Heru Prakosa, SJ dalam kuliah mengenai hubungan antara semesta, lingkungan dan manusia yang saya ikuti, jawabannya sederhana dan sangat rasional: Karena sapi adalah hewan yang sangat berguna dan berjasa bagi nyaris semua kegiatan masyarakat peradaban Indus yang menjadi tempat munculnya Hinduisme. Sapi menjadi penopang peradaban. Sapi dipandang sebagai figur ibu yang memberi kehidupan bagi semua. Begitu juga dengan sungai Gangga yang memiliki posisi sakral dalam agama Hindu karena peran vitalnya terhadap keberlangsungan hidup peradaban orang India saat itu.

Lalu, kita ke nabi Isa AS. Masyarakat dimana beliau diutus adalah masyarakat yang sedang membangga-banggakan pencapaian peradaban yang tinggi di bidang medis. Namun, saat itu, peradaban Isa belum mampu menyembuhkan penyakit kusta dan menghidupkan orang mati. Nah, kita sudah mafhum betul apa mukjizat beliau bukan? Ya, beliau dianugerahiNya kemampuan menyembuhkan kusta dan menghidupkan orang mati, untuk melampaui capaian peradaban dan kebudayaan masa itu. Lagi, contoh mukjizat yang diberikan sebagai respon atas realitas masyarakat setempat.

Sampailah kita kepada Islam. Kita tentu tahu Rasulullah dilahirkan di lingkungan masyarakat Arab jahiliyah yang sedang gandrung akan pemakaian syair-syair yang memiliki nilai sastra tinggi. Apa mukjizat yang diturunkan untuk sebagai respon untuk melampaui capaian peradaban tersebut? tentu saja diturunkannya Al Qur’an Al Karim yang begitu memiliki nilai sastra yang tiada bandingannya di dunia. Contoh lain, praktek tawaf mengelilingi ka’bah ternyata bukanlah tradisi yang berasal dari Islam, melainkan adalah produk kebudayaan Arab jahiliyah saat itu. Apa yang kemudian dilakukan Islam? Agama kita mengenalkan pakaian ihram untuk digunakan para jamaah, mengapa? Karena pada masa pra-Islam, tawaf dilakukan dalam keadaan telanjang bulat. Islam datang, lewat dialektikanya dengan kebudayaan Arab, mengubah tawaf yang menyimpang pada era jahiliyah menjadi ibadah yang sebenar-benarnya dalam Islam.

Demikian bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran pernyataan Gus Dur. Beliau menarik kesimpulan penting bahwa semua upaya “pribumisasi agama” pertama-tama harus dimulai dari menghargai semua kebudayaan yang menjadi tujuan dakwah keagamaan kita. Adalah hal yang mustahil untuk mencerabut agama dari akar-akar kebudayaan, karena agama adalah juga hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri. Tidak ada agama yang benar-benar “murni” sebagai seperangkat sistem nilai dan aturan yang turun begitu saja dari langit. Islam dalam hal ini, sangat membutuhkan budaya sebagai instrumen dakwah.

Profesor Nicolaus Driyarkara, mahaguru filsafat Indonesia, dalam suatu kuliahnya berkata: berada sebagai manusia adalah membudaya. Kiranya pernyataan ini begitu tepat menggambarkan sosok Gus Dur sebagai manusia yang benar-benar membudaya. Manusia yang berada-di dalam-dunia (In-der-Welt-Sein) secara sempurna. Ia menunjukkan bagaimana agama dan kebudayaan senantiasa berada dalam dialektika abadi sebagai hubungan komplementer yang saling melengkapi. Ia mengajak kita untuk tidak bersikap congkak dengan “mengadili” kebudayaan atas nama pemajuan nilai-nilai keagamaan yang menunjukkan sikap konservatisme dan pemahaman keagamaan yang dogmatis dan tentu dangkal seperti yang ditunjukkan oleh beberapa kalangan fundamentalis dan radikalis sekarang. Gus Irwan Masduqi menyatakan, andaikan Al Qur’an diturunkan pada masa ini, mungkin isinya akan banyak mengutuk merajalelanya hoaks sebagai realitas sosial yang ada sekarang, bukan soal haditsul ifki. Sungguh, kita semua patut bersyukur Islam memiliki sosok intelektual seperti almarhum.[]

 

[1] Diskusi bersama Eko Prasetyo di Masjid Syuhada, Yogyakarta

363 views